Ego Donald Trump dalam Perang Iran 

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menurut The Independent, sejak 7 Maret sampai 5 Mei, sedikitnya Trump sudah 12 kali menyatakan AS menang perang di Iran

Jakarta (ANTARA) - Perang Iran sepertinya tak akan berakhir sampai semua keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terpenuhi.

Trump adalah tipikal orang yang hanya menginginkan kemenangan mutlak.

Mentalitasnya mengenai menang dan kalah dibangun di atas anggapan bahwa yang menang harus mendapatkan segalanya atau winner takes all.

Dia menganggap kehidupan lebih sebagai serangkaian pertempuran yang terus-menerus ketimbang proses kerja sama.

Kamusnya tentang kemenangan berpegang pada teori zero-sum game bahwa kemenangan harus ditebus dengan kekalahan mutlak di pihak lain, sehingga tak ada istilah win-win solution dan kompromi.

Mentalitas itu dia tunjukkan di banyak kejadian, mulai pemilihan presiden sampai perundingan pengakhiran perang dengan Iran.

Trump adalah satu dari sedikit orang di AS yang kalah dalam pemilihan presiden, tapi mencalonkan diri lagi sebagai presiden.

Hanya Grover Cleveland pada 1888 dan Herbert Hoover pada 1936 yang menempuh langkah seperti Trump.

Tapi berbeda dari Cleveland dan Hoover, Trump menang pada kesempatan pertama, kemudian kalah pada kesempatan kedua, dan menang pada kesempatan ketiga.

Ego Trump sangatlah besar sampai acap mengabaikan etik tak tertulis dalam praktik politik di AS, termasuk tetap mencalonkan diri setelah kalah pada Pemilu sebelumnya.

Bagi Trump, kekalahan adalah aib, dan aib itu harus ditutup dengan kemenangan.

Mantan menteri perburuhan AS, Robert Reich, dalam opini The Guardian pada 8 Mei menyatakan bahwa ego Trump menolak kekalahan karena kekalahan adalah hal menyakitkan.

Itu terlihat pada Pemilu 2020. Dia satu-satunya calon presiden di AS yang tak menerima hasil pemilu karena menjadi pihak yang kalah.

Dia akan marah jika ada orang lain yang mengatakan dirinya kalah. Dia juga akan marah jika ada orang menyatakan dirinya salah.

Situasi ini terjadi pada Paus Leo XIV yang menolak pengaitan agama dengan Perang Iran, dan kemudian Kanselir Jerman Friedrich Merz yang dengan berani menyatakan Iran telah mempermalukan AS.

Merz juga menilai Trump tak memiliki strategi yang jelas dan jalan keluar dalam Perang Iran.


Perang tak bertanggung jawab

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.