Phnom Penh (ANTARA) - Kementerian Perdagangan Kamboja menyatakan, Rabu, total impor solar dan bensin negaranya mencapai 624 juta dolar AS pada kuartal pertama (Q1) tahun 2026, naik 15,5 persen dari 540 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut laporan itu, Kamboja mengeluarkan 366 juta dolar AS untuk mengimpor solar pada periode Januari-Maret (naik 10,2 persen) dan 258 juta dolar AS untuk bensin (naik 24 persen).
Wakil direktur di Pusat Studi China-ASEAN Universitas Teknologi dan Sains Kamboja, Thong Mengdavid, mengatakan peningkatan pengeluaran tersebut kemungkinan disebabkan oleh kenaikan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
"Kamboja dapat menghadapi tekanan biaya impor dan dampak inflasi, terutama pada (sektor) transportasi dan makanan," ujar Thong kepada Xinhua.
Oleh karena itu, dia menambahkan, pemerintahnya perlu meningkatkan urgensi kebijakan terkait diversifikasi energi, seperti energi terbarukan, dan membangun kilang minyak atau kapasitas penyimpanan.
Harga solar per liter mencapai 5.700 riel (satu riel sekitar Rp4,29) pada Rabu, sementara bensin reguler dipatok 4.950 riel di Kamboja, menurut kementerian perdagangan negara tersebut.
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·