BI: Kombinasi global dan domestik pengaruhi tekanan rupiah hari ini

Sedang Trending 52 menit yang lalu
BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa, menjelaskan bahwa dari faktor global, tekanan rupiah dipicu meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global.

Sementara dari domestik, bank sentral juga mencatat terjadinya peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman, seperti pembayaran utang luar negeri (ULN), dividen, serta kebutuhan ibadah haji yang mendorong permintaan valas di pasar domestik.

“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention, baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” kata Destry.

Ia menambahkan bahwa BI juga melihat kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio domestik terus membaik.

Hal ini tercermin dari aliran modal masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp61,6 triliun selama April 2026.

Selain itu, likuiditas valas di pasar domestik tetap memadai, tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9 persen sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) pada akhir Maret 2026.

“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” tutup Destry.

Sebagai catatan, dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Kamis (7/5), Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan kebutuhan valas tetap dapat terpenuhi meski permintaan meningkat akibat faktor musiman pada periode April hingga Mei 2026.

Di tengah pelemahan nilai tukar yang masih berlangsung, Perry menegaskan bahwa bank sentral tetap all out menjaga stabilitas rupiah dengan terus berkoordinasi dengan pemerintah.

Berdasarkan data terakhir, posisi cadangan devisa mencapai 146,2 miliar dolar AS pada April 2026 atau menurun sebesar 2 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Penurunan tersebut terjadi meski terdapat tambahan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah. Sebelumnya, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini atau Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa, juga bergerak melemah ke level Rp17.514 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.415 per dolar AS.

Baca juga: Menkeu siap stabilkan pasar obligasi saat nilai tukar sentuh Rp17.500

Baca juga: IHSG ditutup melemah di tengah tekanan rupiah dan sentimen MSCI

Baca juga: Puan minta pemerintah atasi rupiah yang sentuh Rp17.503 per dolar AS

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.