Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan akan berbalik menguat pada periode Juli hingga Agustus 2026 setelah mengalami tekanan berat hingga mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Proyeksi optimis tersebut disampaikan oleh Bank Indonesia dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta pada Senin (18/5/2026).
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pelemahan tajam mata uang domestik yang sempat menyentuh level Rp17.656 per dolar AS pada perdagangan spot hari Senin disebabkan oleh siklus musiman di dalam negeri. Pada periode April, Mei, dan Juni, pasar domestik secara rutin menghadapi lonjakan permintaan valuta asing untuk keperluan pembayaran dividen serta pelunasan utang luar negeri.
Meskipun tekanan saat ini sangat tinggi hingga posisi year-to-date berada di angka Rp16.900 per dolar AS, bank sentral meyakini gerak rupiah akan kembali masuk ke dalam rentang asumsi makro.
"Sehingga kenapa meyakini nanti Insya Allah ada pengalaman dari kami. Kebetulan saya tidak ingin sombong, kebetulan saya memang hidup dari krisis ke krisis. 1997-1998 juga saya ikut di sana, 2008 global seperti itu, taper tantrum juga seperti itu, Covid juga begitu, memang tekanan-tekanan nilai tukar itu umumnya kalau Juli, Agustus, and semuanya itu akan menguat," jelas Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).
Selain faktor siklus tahunan di dalam negeri, Perry Warjiyo menambahkan bahwa guncangan pada kurs rupiah kali ini dipicu oleh eskalasi risiko geopolitik di tingkat global. Sentimen internasional tersebut turut memengaruhi persepsi risiko terhadap aset-aset keuangan di Indonesia secara menyeluruh.
"Nah, sekarang Februari tahun ini, terus ada perang Timur Tengah, sehingga menunjukkan risiko geopolitiknya tinggi banget. Yaitu tercermin kenapa CDS kita naik, itu risiko. Itu memang globalnya, saya tidak ingin menyalahkan global, ini semua negara menghadapi itu, global," ujarnya.
Berdasarkan data pasar spot yang dilansir dari Bloomberg Technoz pada Senin (18/5/2026), mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 1,08% ke level Rp17.656 per dolar AS. Penurunan yang terjadi secara konsisten tanpa jeda sejak pekan lalu mengindikasikan kecenderungan pelaku pasar yang lebih memilih memegang dolar AS sebagai aset aman dibandingkan mempertahankan posisi mereka di pasar keuangan domestik.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·