Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama mengajak seluruh umat Buddha untuk menjadikan momentum Vesakha Sananda 2026 sebagai penguatan praktik spiritual yang berdampak nyata bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Hari ini memberikan makna bahwa agama tidak hanya dimanifestasikan secara ritual semata, tapi agama bisa dipersiapkan menjadi pedoman, dan kita wujudkan dalam kehidupan. Sehingga bermakna buat diri sendiri, masyarakat, bangsa negara, dan alam semesta,” ujar Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Supriyadi di Jakarta, Rabu.
Pernyataan itu disampaikan Supriyadi saat menggelar Lokakarya Borobudur bertajuk "Membaca, Memahami, dan Menghidupkan Nilai Spiritualitas Borobudur", yang digelar di Gedung Kemenag, Jakarta.
Lokakarya Borobudur menjadi salah satu rangkaian Veshaka Sanada 2026 atau rangkaian kegiatan spiritualitas dan sosial selama sebulan penuh untuk menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE/2026.
Kegiatan Roadshow Lokakarya Borobudur berangkat dari pemahaman bahwa Borobudur tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber nilai spiritual yang kaya makna.
“Lokakarya ini juga menjadi ruang interaksi yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, tokoh agama, organisasi keagamaan Buddha, serta masyarakat umum, guna mendorong pertukaran gagasan dan penguatan perspektif yang komprehensif,” ujar dia.
Supriyadi menyampaikan peringatan Tri Suci Waisak 2570 B.E. yang jatuh pada 31 Mei 2026 mengusung tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”, menjadi bagian dari dukungan terhadap Asta Program Prioritas Menteri Agama.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh Sangha Agung Indonesia pada 30 April 2026 dan ditutup pada 29 Mei 2026.
Sangha Theravada Indonesia telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan pada 1 Mei 2026 yang mencakup puja bakti, praktik Atthangasila, meditasi, hingga kelas Dhamma.
Sementara itu, Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia mengajak umat untuk melaksanakan Upavasa vegetarian sepanjang 1 hingga 31 Mei 2026.
Di samping itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, dilaksanakan kegiatan ekoteologi dan gerakan bersih-bersih rumah ibadah yang mencakup gerakan 3R (Reduce, Recycle, Reuse) di lingkungan rumah ibadah agama Buddha, perguruan tinggi keagamaan Buddha, Dhammasekha, dan sekolah, serta kegiatan Fang Shen atau pelepasan makhluk hidup.
Kegiatan lainnya meliputi Gerakan Upavasa dan Berdana Paramita sebagai wujud praktik kebajikan dan pengendalian diri, Gerakan Eco Enzyme melalui edukasi pembuatan cairan ramah lingkungan, Pindapata Nasional Gema Waisak sebagai sarana memperkuat hubungan antara Sangha dan umat, serta penyelenggaraan Vesak Festival 2026 sebagai ruang ekspresi budaya dan spiritual umat Buddha.
“Selain itu, dilaksanakan pula kegiatan sosial yang meliputi karya bakti membersihkan Taman Makam Pahlawan secara serentak, donor darah dan/atau pengobatan gratis, serta santunan bagi anak yatim/piatu beragama Buddha,” kata Supriyadi.
Rangkaian kegiatan lainnya mencakup Gerakan Hening Nusantara, Roadshow Lokakarya Borobudur di berbagai daerah, serta perjalanan spiritual Indonesia Walk for Peace 2026 dari Bali menuju Candi Borobudur
Puncak peringatan Waisak akan dilaksanakan melalui Puja Bhakti pada 31 Mei 2026 di vihara, cetiya, sekolah, dan/atau candi Buddha di seluruh Indonesia.
Baca juga: Kemenag segera buka seleksi anggota Majelis Masyayikh
Baca juga: Kemenag luncurkan program masjid ramah pemudik di Aceh
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·