BMI Revisi Naik Proyeksi Harga Nikel Dunia ke Level US$16.600

Sedang Trending 3 hari yang lalu

BMI yang merupakan lengan riset Fitch Solutions Company menaikkan proyeksi harga nikel dunia pada Kamis (16/4/2026) menjadi US$16.600 per ton untuk tahun 2026. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berada di level US$15.800 per ton di tengah dinamika pasokan global.

Kenaikan target harga tersebut dipicu oleh kondisi pasar yang secara struktural dinilai lebih kuat meski terdapat potensi pelemahan harga secara berkala. Berdasarkan data yang dilansir dari Bloombergtechnoz, harga nikel saat ini diprediksi tetap mampu bertahan di atas rata-rata tahun 2025 yang sebesar US$15.161 per ton.

Pasokan dari Indonesia diprediksi akan mendominasi prospek harga meskipun pasar global diperkirakan mengalami surplus hingga 324.000 ton pada tahun ini. Rencana Indonesia untuk menambah kapasitas pabrik pengolahan atau smelter diperkirakan menjadi faktor pengunci yang menjaga batas bawah harga logam tersebut.

"Kami menaikkan perkiraan harga nikel pada 2026 menjadi USD16.600/ton dari sebelumnya USD15.800/ton, menyusul revisi naik di luar siklus yang dilakukan sebelumnya pada tahun ini," tulis BMI dalam laporan riset terbarunya.

Lembaga riset tersebut meramalkan produksi nikel olahan bakal tumbuh sebesar 9,8 persen pada tahun 2026, meningkat dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 9 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi besar-besaran dari produsen di Indonesia yang kini menjadi pemain utama di pasar global.

Selain faktor internal industri, konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran turut memengaruhi fluktuasi harga nikel di pasar internasional. Ketegangan di Timur Tengah berisiko mengganggu pasokan sulfur impor yang menjadi bahan baku utama bagi smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di Indonesia.

Sekitar 67 persen kebutuhan sulfur untuk operasional smelter HPAL di Indonesia didatangkan dari kawasan Timur Tengah. Gangguan distribusi akibat konflik tersebut berpotensi memicu kenaikan biaya produksi dan membatasi pertumbuhan pasokan nikel dunia secara keseluruhan.

Hingga 10 April 2026, harga nikel tercatat ditutup pada level US$17.241 per ton, atau naik 2,5 persen secara year to date. Meski demikian, angka tersebut telah turun 4,8 persen dari level sebelum konflik meletus akibat pelemahan sentimen makroekonomi global.

Langkah Pemerintah Indonesia memangkas kuota produksi bijih nikel menjadi sekitar 260 hingga 270 juta ton tahun ini turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Kebijakan ini diambil setelah tahun sebelumnya produksi mencapai 379 juta ton guna menjaga stabilitas harga di tingkat global.

Saat ini, kapasitas terpasang fasilitas pengolahan nikel di Indonesia mencapai 2,8 juta ton nikel. Kapasitas tersebut mencakup 2,3 juta ton dari smelter teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan 500.000 ton dari smelter berbasis teknologi HPAL.