Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan peta sebaran awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia. Seperti dikutip dari Kompas, prakiraan ini berlaku mulai 6 hingga 12 Mei 2026 dengan menyoroti perluasan zona risiko tinggi.
Awan Cumulonimbus menjadi ancaman serius bagi sektor transportasi karena memicu turbulensi hebat dan badai petir. Penumpang jasa transportasi udara maupun laut diminta waspada terhadap pertumbuhan awan ekstrem ini di jalur navigasi.
Data model cuaca numerik menunjukkan adanya penambahan titik baru dalam kategori Frequent (FRQ). Kategori ini berarti cakupan spasial awan Cumulonimbus di wilayah tersebut mencapai lebih dari 75 persen.
Aktivitas atmosfer yang sangat aktif di zona ini memicu pertumbuhan awan yang sangat rapat dan luas. Berikut adalah daftar wilayah yang masuk dalam kategori paling berbahaya tersebut:
| Daratan | Maluku, Papua Selatan, dan Sulawesi Tenggara. |
| Perairan | Laut Arafuru, Laut Banda, Laut Jawa bagian timur, Selat Makassar bagian selatan. |
| Samudra | Samudra Hindia barat Aceh, Mentawai, Nias, dan selatan Banten. |
Sebaran Potensi Menengah di Jalur Strategis
Kategori Occasional (OCNL) dengan cakupan awan 50 hingga 75 persen terpantau mendominasi sebagian besar Indonesia. Di Pulau Jawa, potensi ini meluas hingga Jawa Timur dan Samudra Hindia di selatan Jawa Tengah.
Jalur pelayaran strategis seperti Selat Malaka bagian utara, Selat Karimata, dan Laut Natuna Utara juga masuk dalam radar kategori menengah. Nakhoda dihimbau mewaspadai perubahan cuaca mendadak dan potensi gelombang tinggi.
Mitigasi Risiko Transportasi
Informasi ini merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan untuk memitigasi risiko dalam jangka menengah tujuh hari ke depan. Melalui model visualisasi warna, pengguna jasa dapat menghindari zona pertumbuhan awan yang berbahaya.
BMKG menetapkan tiga tingkat kewaspadaan, yakni Isolated (di bawah 50 persen), Occasional (50-75 persen), dan Frequent (di atas 75 persen). Pilot dan nakhoda diminta terus berkoordinasi dengan otoritas lalu lintas udara dan pelabuhan.
Masyarakat umum juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang dan hujan petir, terutama di zona merah. Pembaruan informasi cuaca tersedia secara real-time melalui aplikasi InfoBMKG atau situs web resmi lembaga tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·