Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan penurunan curah hujan di wilayah Indonesia seiring berakhirnya April 2026. Fenomena ini dipicu oleh aktifnya angin timuran serta penguatan sinyal fenomena El Nino dalam waktu dekat.
Dikutip dari Kompas, pantauan iklim pada dasarian III April menunjukkan curah hujan kategori menengah masih mendominasi sekitar 72,60 persen wilayah. Namun, wilayah dengan curah hujan rendah sudah mencapai 26,01 persen.
Kondisi tersebut menjadi indikasi kuat bahwa Indonesia sedang memasuki fase transisi dari musim hujan menuju kemarau. Penurunan intensitas hujan mulai terlihat jelas di berbagai daerah dibandingkan periode sebelumnya.
BMKG memprediksi kondisi ENSO yang saat ini berada pada fase netral akan segera bergeser menjadi El Nino. Fenomena ini diperkirakan berkembang dengan intensitas moderat hingga kuat antara Mei hingga Juli 2026.
Kehadiran El Nino dikenal luas sebagai pemicu berkurangnya curah hujan secara signifikan di tanah air. Kondisi ini berpotensi memperparah kekeringan saat memasuki puncak musim kemarau mendatang.
Selain El Nino, kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga diprediksi terjadi mulai Mei 2026. IOD positif ini akan bertahan hingga semester kedua tahun ini dan memperkuat dampak El Nino.
Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut akan semakin mengurangi suplai uap air ke wilayah Indonesia. Dampaknya, risiko kekeringan di sejumlah daerah diprediksi akan meningkat secara berkelanjutan.
Daftar Wilayah dengan Curah Hujan Rendah
Sejumlah daerah tercatat mulai mengalami curah hujan rendah di bawah 50 mm per dasarian. Di Pulau Sumatera, wilayah ini meliputi pesisir utara dan timur Aceh, sebagian Sumatera Utara, serta Riau bagian utara.
Kondisi serupa mulai menjalar ke Pulau Jawa, khususnya di pesisir utara Banten dan Jawa Barat. Wilayah Jawa Tengah bagian selatan dan timur, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, juga menunjukkan tren yang sama.
Penurunan curah hujan yang signifikan bahkan mulai dirasakan di sebagian besar wilayah Jawa Timur dan Madura. Tren kering ini diprediksi akan terus meluas dalam beberapa bulan ke depan.
Wilayah lain yang terdampak meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Begitu pula dengan sebagian Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku, hingga wilayah Papua.
Waspada Masa Pancaroba dan Cuaca Dinamis
Meskipun tren penurunan hujan mulai terlihat, BMKG menyebutkan bahwa kategori hujan menengah masih mendominasi secara nasional. Hal ini menandakan Indonesia masih berada dalam fase pancaroba atau transisi musim.
Pada periode transisi ini, karakteristik cuaca cenderung sangat dinamis dengan perubahan yang terjadi begitu cepat. Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai potensi hujan yang muncul secara tiba-tiba di tengah cuaca panas.
Hingga dasarian terakhir April ini, belum ditemukan wilayah yang masuk dalam kategori hujan ekstrem. Status kekeringan meteorologis pada level "awas" juga dilaporkan belum terdeteksi oleh stasiun pemantau.
Pihak BMKG mengimbau masyarakat dan sektor pertanian untuk segera menyiapkan langkah antisipasi menghadapi berkurangnya ketersediaan air. Pemantauan informasi atmosfer secara berkala menjadi kunci dalam menghadapi perubahan iklim tahun ini.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·