Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi jangka panjang guna menghadapi ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Langkah antisipasi ini diambil menjelang prediksi puncak musim kemarau yang akan melanda mayoritas wilayah Indonesia pada Agustus 2026.
Data Prediksi Musim Kemarau 2026 BMKG menunjukkan sebanyak 61,4 persen wilayah Indonesia atau 429 Zona Musim (ZOM) akan terdampak cuaca kering tersebut. Wilayah yang mengalami puncak kemarau meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan sebagian Papua.
Sebelum memasuki puncak tersebut, BMKG melaporkan 26,3 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau sejak Mei 2026. Penentuan awal musim ini didasarkan pada indikator curah hujan terukur yang berada di bawah 50 milimeter per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut.
Kendati demikian, sejumlah daerah saat ini masih berpotensi diguyur hujan lebat akibat dinamika atmosfer yang aktif selama masa pancaroba. Fenomena global El Nino saat ini terdeteksi berada pada kategori El Nino Condition dengan nilai SOI sebesar -7,4 dan indeks NINO 3.4 sebesar +0,52, yang umumnya menurunkan pasokan awan hujan di wilayah Indonesia timur.
Prakirawan BMKG Ina Indah dalam siaran persnya menjelaskan bahwa kombinasi dinamika atmosfer dipengaruhi oleh sirkulasi siklonik yang terpantau di beberapa titik, seperti Samudra Hindia barat Sumatera Barat dan Samudra Pasifik utara Papua.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," ujar Ina Indah.
Selain sirkulasi siklonik, BMKG dalam laman resminya yang dikutip Selasa (19/5) menyatakan bahwa aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga turut memengaruhi kondisi cuaca saat ini.
"Meskipun demikian, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan masih berada pada fase 3 di Samudra Hindia, dengan hasil filter spasial aktif di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga berpotensi mendukung peningkatan pembentukan awan konvektif di sejumlah wilayah Indonesia meskipun berada dalam El Nino Condition," tulis BMKG.
Kondisi atmosfer ini diperkuat oleh kehadiran gelombang tropis yang melintasi wilayah Indonesia.
"Aktivitas gelombang tropis tersebut dapat membantu meningkatkan suplai uap air dan mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya," demikian keterangan BMKG.
Faktor lain seperti suhu permukaan yang panas pada siang hari turut memicu terjadinya hujan konvektif pada sore hari. Pihak BMKG mengonfirmasi bahwa fenomena udara terik ini merupakan hal yang jamak terjadi selama masa peralihan musim.
“Berkurangnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif sehingga suhu udara terasa lebih panas,” ujarnya pada Senin (18/5/2026) malam.
Prakirawan BMKG Bintari menguraikan bahwa suhu udara panas yang mencapai 36 derajat Celsius justru memicu pertumbuhan awan hujan pada sore hingga malam hari di wilayah dengan kelembapan tinggi.
“Pemanasan permukaan yang intensif pada siang hari mendukung pertumbuhan awan konvektif. Karena itu, meskipun cuaca terasa panas, masyarakat tetap perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat terjadi pada sore hingga malam,” ucap Bintari.
Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem ini, BMKG menetapkan status siaga dan waspada di berbagai daerah serta memprediksi adanya potensi angin kencang.
“Potensi angin kencang diperkirakan akan terjadi di Aceh bagian utara, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur,” tutur Bintari.
Guna menekan dampak bencana kekeringan, BMKG mengoptimalkan diseminasi informasi cuaca berbasis desa di samping pelaksanaan modifikasi cuaca.
“Walaupun saat ini terdapat indikasi El Nino, aktivitas MJO dan gelombang atmosfer tropis masih cukup aktif sehingga potensi pembentukan hujan tetap tinggi di sejumlah wilayah,” katanya.
Bintari meminta warga untuk terus menjaga kesehatan tubuh, melindungi diri dari sengatan matahari langsung di siang hari, serta mencukupi kebutuhan cairan.
“Cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat diharapkan rutin memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG, terutama sebelum melakukan perjalanan atau aktivitas luar ruangan,” ujar Bintari.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menyatakan beberapa kecamatan di Jawa Tengah selatan mulai memasuki kemarau sejak awal Mei. Penentuan awal musim tersebut mengacu pada kriteria curah hujan yang ditetapkan BMKG.
“Suatu wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau apabila curah hujannya di bawah 50 milimeter per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut,” ujar Teguh, Rabu (20/5/2026).
Teguh mengingatkan masyarakat bahwa masuknya musim kemarau bukan berarti intensitas hujan harian akan langsung hilang sepenuhnya.
“Dalam musim kemarau tetap masih ada hujan, hanya saja jumlahnya kurang dari 50 milimeter per dasarian atau kurang dari 150 milimeter per bulan,” katanya.
Prakirawan BMKG Adelia F menyampaikan bahwa pengaruh gangguan atmosfer seperti Siklon Tropis Hagupit saat ini sudah mulai melemah dan bergerak menjauhi wilayah Indonesia.
“Intensitas siklon topis diprakirakan menurun dan bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi wilayah Indonesia,” ujarnya pada Senin (11/5/2026) malam.
Adelia menambahkan bahwa melemahnya siklon tersebut berbarengan dengan aktifnya beberapa gelombang atmosfer secara simultan.
“Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang aktif secara bersamaan di sebagian wilayah Indonesia,” ujar Adelia.
Meskipun pasokan uap air masih terbuka akibat pergerakan monsun, BMKG tetap mengimbau warga waspada terhadap bencana hidrometeorologi seperti pohon tumbang dan petir.
“Pelemahan angin timuran tetap berpotensi meningkatkan kandungan uap air, khususnya di wilayah Indonesia bagian selatan, sehingga peluang hujan masih terbuka,” katanya.
Masyarakat disarankan memantau pembaruan berkala dari aplikasi resmi BMKG, mengingat penguatan massa udara kering dari angin Monsun Australia mulai memotong suplai awan hujan di wilayah selatan Indonesia sejak pertengahan Mei.
“Masyarakat perlu miningkatkan kondisi tubuh saat cuaca panas dengan menggunakan pelindung dari sinar matahari and mencukupi kebutuhan cairan, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan,” pungkas Adelia.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menambahkan, institusinya terus berupaya meningkatkan keakuratan data bagi masyarakat luas melalui penguatan teknologi prakiraan berbasis nowcasting dan radar cuaca.
"Informasi mengenai prediksi, sekarang ini sudah sampai level desa. Jadi kalau lihat di aplikasi itu kan sudah bisa per kelurahan atau per desa, kita berusaha agar forecasting itu akurat," kata Andri.
Menurut keterangan resmi BMKG, seluruh informasi mitigasi ini ditujukan agar pemangku kebijakan dan masyarakat dapat mengambil tindakan penanggulangan secara riil.
"Informasi peringatan dini diharapkan tidak berhenti pada level institusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah antisipatif di lapangan," tulis BMKG.
35 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·