Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan peluncuran Program P&G Health Indonesia University Partnership, yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan tenaga kesehatan adalah langkah strategis hasil kolaborasi industri dan perguruan tinggi dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional.
Program tersebut melibatkan kolaborasi antara Procter & Gamble (P&G) Health Indonesia, Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Inisiatif tersebut bertujuan memberdayakan generasi calon apoteker, alumni, serta tenaga kesehatan melalui pembelajaran yang lebih aplikatif, relevan, dan selaras dengan kebutuhan dunia nyata, khususnya dalam penanganan anemia, rinitis akut, dan neuropati perifer.
Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Rabu, mengatakan Program P&G Health Indonesia University Partnership sejalan dengan model kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) yang dikembangkan BPOM.
Baca juga: Perkuat pengawasan, BPOM jalin kerja sama dengan HSA Singapura
"Hingga saat ini BPOM telah menjalin kerja sama dengan sekitar 180 perguruan tinggi di Indonesia yang diimplementasikan dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat," katanya.
Melalui sinergi ABG, BPOM berperan sebagai regulator yang menjembatani kebutuhan industri dan potensi riset perguruan tinggi.
Dengan demikian, katanya, hasil penelitian dapat menjawab kebutuhan industri serta memenuhi standar dan regulasi untuk kemudian dihilirisasi, dikomersialisasikan, dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga mendorong kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Kolaborasi P&G Health Indonesia bersama Fakultas Kesehatan Unika Atma Jaya menghadirkan metode pembelajaran yang komprehensif melalui modul e-learning, video edukasi, serta materi terstruktur dalam bentuk e-book dan buku cetak. Program ini ditargetkan dapat menjangkau lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026.
Baca juga: Wujudkan kemandirian, pemerintah dorong kerja sama riset dengan swasta
Sementara itu kolaborasi dengan Fakultas Farmasi Unpad difokuskan pada penguatan kompetensi tenaga kesehatan melalui program e-learning bertema "Patient Counseling & Rational Use of Oxymetazoline". Program ini secara khusus ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dalam penanganan rinitis akut secara rasional dan berbasis bukti.
Taruna Ikrar berharap program tersebut menjadi model kemitraan yang dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
"Tentunya dilaksanakan dengan dukungan dan pendampingan BPOM untuk memastikan setiap inovasi dan program berjalan sesuai standar keamanan, kemanfaatan, dan mutu, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan masyarakat," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Noffendri mengatakan saat ini terdapat sekitar 115 program studi profesi apoteker di Indonesia dengan jumlah lulusan mencapai 14.000 orang.
Oleh karena itu sinergi yang terbangun melalui program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas lulusan agar lebih siap menghadapi kebutuhan pelayanan kefarmasian di masyarakat.
Baca juga: Indonesia-China jajaki kerja sama bidang farmasi dan pengawasan obat
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·