BPOM upayakan perkuat kolaborasi ABG kejar inovasi ATMP di Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Perkembangan ini dinilai membawa dampak langsung bagi masyarakat karena membuka peluang pengobatan yang lebih personal dan presisi

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berupaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia bisnis, dan pemerintah (ABG) terkait obat terapi lanjutan (ATMP) dengan memberikan materi pada kuliah tamu di Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L University).

"Target utama BPOM adalah membantu masyarakat luas dalam ketersediaan obat-obat inovasi. Tapi di lain sisi, akan turut berdampak kepada para industri. Karena niat kami sebagai seorang regulator untuk membantu, untuk melayani, bukan untuk mempersulit dalam proses perizinannya," ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar.

Dia mengatakan di Jakarta, Rabu, bahwa kolaborasi yang berjalan sinergis dapat meningkatkan layanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Pendekatan melalui forum ini dinilai penting untuk memastikan inovasi terapi berbasis gen, sel, dan bioteknologi dapat berkembang lebih cepat. Namun, tetap berada dalam koridor keamanan, efektivitas, dan mutu yang ketat.

Dia menjelaskan, pihaknya menerapkan model kolaborasi academia-business-government (ABG) untuk mengoptimalkan proses riset hingga komersialisasi inovasi kesehatan. Dalam konsep ini, akademisi berperan dalam pengembangan riset dasar dan terapan serta menyiapkan tenaga ahli.

Baca juga: BPOM komitmen terus kawal pengawasan program MBG dengan ketat

"Kemudian, industri berkontribusi melalui investasi, pengembangan produk, transfer teknologi, dan pemenuhan standar mutu. Sementara, pemerintah melalui BPOM memberikan pendampingan regulatori agar inovasi tetap sesuai dengan regulasi dan dapat melalui proses evaluasi secara efisien," katanya.

Dia menyoroti perkembangan global yang menunjukkan percepatan signifikan pada terapi berbasis biologi. Ribuan produk terapi gen, sel, dan asam ribonukleat (RNA) saat ini tengah dikembangkan di berbagai negara. Bahkan, sebagian telah digunakan untuk pasien.

"Perkembangan ini dinilai membawa dampak langsung bagi masyarakat karena membuka peluang pengobatan yang lebih personal dan presisi, terutama untuk penyakit kronis, kanker, dan kelainan genetik," katanya.

Dalam mendukung inovasi tersebut, peran lembaga tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator. Pengawasan, katanya, dilakukan secara menyeluruh mulai dari tahap penelitian, uji non-klinik dan klinik, hingga pengawasan pasca produksi. Dengan pendekatan ini, masyarakat diharapkan memperoleh akses terhadap terapi inovatif yang tidak hanya modern, tetapi juga terjamin keamanan dan mutunya.

Baca juga: BPOM dorong penguatan industri farmasi demi kurangi impor bahan baku

Dari sisi ekonomi, katanya, pengembangan ATMP juga dipandang memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan industri kesehatan nasional. Sektor obat dan makanan dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Pengembangan ATMP juga membuka peluang investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan kemandirian industri farmasi dalam negeri.

Meski demikian, pengembangan ATMP masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kompleksitas produksi, kebutuhan data klinis jangka panjang, serta aspek keamanan yang harus terus dipantau. Hal ini menuntut kesiapan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan, baik dari sisi regulasi, infrastruktur, maupun sumber daya manusia.

BPOM juga menekankan pentingnya percepatan hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar dapat benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Melalui kolaborasi ABGC, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk nyata yang tersedia di layanan kesehatan.

Baca juga: RI kuatkan pencegahan penyalahgunaan obat tertentu selamatkan remaja

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.