BRIN dan Rosatom Rusia Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Nuklir

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menerima kunjungan Direktur Jenderal Rosatom Rusia Alexey Likhachev di Jakarta pada Rabu (13/5/2026) guna mendalami potensi pengembangan teknologi nuklir untuk sektor energi maupun non-energi. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan Presiden Prabowo Subianto dengan delegasi Rusia sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Penjajakan ini mencakup penyusunan peta jalan, studi kelayakan tapak, pemilihan teknologi reaktor, hingga pengaturan siklus bahan bakar nuklir. Langkah strategis tersebut merupakan bagian dari tugas BRIN dalam mengoordinasikan penguasaan teknologi maju antar-instansi di Indonesia.

"Ini merupakan upaya komprehensif untuk mendalami berbagai opsi teknologi maju bagi masa depan. BRIN bertugas memastikan bahwa setiap langkah dalam penjajakan teknologi nuklir ini terkoordinasi dengan baik antar-instansi," kata Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kerja sama ini juga menyasar modernisasi infrastruktur riset nasional, termasuk revitalisasi Reaktor GA Siwabessy yang berlokasi di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong. Program tersebut mencakup pengelolaan limbah radioaktif serta fabrikasi elemen bakar reaktor guna menunjang kemandirian riset.

"Hal ini juga mencakup pengelolaan limbah radioaktif dan fabrikasi elemen bakar reaktor," kata Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Selain energi listrik, kolaborasi ini mengeksplorasi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) yang berfungsi memproduksi hidrogen dan desalinasi air. Pemanfaatan radioisotop serta teknologi iradiasi juga akan dikembangkan untuk memperkuat sektor medis, pangan, dan industri nasional.

"Pengembangan SDM: Penguatan kerja sama pendidikan dan pengembangan kapasitas SDM di bidang teknologi nuklir. Upaya ini akan melibatkan koordinasi erat dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)," lanjut Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Arif menekankan bahwa kesuksesan adopsi energi nuklir memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ilmu sosial. Hal ini diperlukan untuk menjamin transparansi serta keamanan proses bagi masyarakat luas di tanah air.

"Penguasaan teknologi nuklir memang mutlak, namun pelibatan disiplin ilmu sosial sangat krusial. Pendekatan sosiologis ini vital untuk memetakan tingkat penerimaan publik, memitigasi dampak sosial-ekonomi, serta memastikan bahwa setiap tahap penjajakan energi nuklir di Indonesia berjalan secara transparan, aman, dan humanis," tegas Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kemitraan teknis antara Indonesia dan Rusia tercatat telah terjalin melalui berbagai kolaborasi sebelumnya, termasuk kerja sama BATAN dan Rosatom pada 2015 serta BAPETEN pada 2017. BRIN berkomitmen untuk memperkuat fondasi historis tersebut dalam implementasi teknologi nuklir masa depan.

"Sebagai wujud komitmen nyata, BRIN akan melanjutkan dan memperkuat kerja sama tersebut," ujar Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).