Operasi bariatrik sering disalahpahami sebagai 'jalan pintas' untuk menurunkan berat badan. Tidak sedikit pula yang mendadak FOMO ingin menjalaninya, terlebih melihat 'success story' penurunan bobot tubuh signifikan pada sejumlah artis hingga tokoh yang berat badannya sempat menyentuh 100 kg.
Teranyar, selebgram Shindy Samuel, dari 171 kg, menjadi 67 kg.
Padahal, prosedur ini justru merupakan terapi medis serius yang hanya ditujukan untuk pasien dengan kondisi tertentu. Pertanyaannya, siapa saja yang sebenarnya boleh bariatrik?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis bedah digestif, Handy Wing, menyebut bariatrik ditujukan untuk pasien dengan penyakit metabolik. Obesitas bukan sekadar soal makan berlebihan, tetapi berkaitan dengan perubahan metabolisme jangka panjang.
Gaya hidup modern seperti konsumsi makanan ultra processed food (UPF), tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, hingga stres kronis, membuat tubuh beradaptasi dengan cara yang justru mempersulit penurunan berat badan.
"Pemicu obesitas salah satunya berasal dari gaya hidup modern yang gemar mengonsumsi makanan UPF, tinggi gula dan lemak secara berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, dan stres kronis," jelasnya saat dihubungi detikcom Rabu (6/5/2026).
Dalam kondisi ini, tubuh menganggap berat badan tinggi sebagai 'normal baru'. Akibatnya, meski sudah diet, berat badan sering kali sulit turun. Di sinilah operasi bariatrik mulai dipertimbangkan.
"Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya," lanjut dia.
Siapa yang Bisa Menjalani Operasi Bariatrik?
Tidak semua orang dengan berat badan berlebih bisa langsung menjalani prosedur ini. Ada kriteria medis yang harus dipenuhi, terutama berdasarkan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan kondisi kesehatan penyerta:
- BMI lebih dari 27,5: untuk pasien dengan diabetes melitus
- BMI lebih dari 30: untuk pasien dengan penyakit penyerta (komorbid), seperti hipertensi atau gangguan metabolik
- BMI lebih dari 35: untuk pasien tanpa komorbid
Artinya, operasi ini diprioritaskan bagi mereka yang risiko kesehatannya akibat obesitas lebih besar dibandingkan risiko operasi itu sendiri.
Bukan Solusi Instan
Meski efektif, operasi bariatrik bukan solusi cepat tanpa konsekuensi. Prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna, sehingga:
Rasa lapar lebih terkontrol
Penyerapan kalori berkurang
Respons hormon terkait metabolisme ikut berubah
Namun, setelah operasi, pasien harus menjalani perubahan pola makan drastis karena ukuran lambung menjadi jauh lebih kecil. Tanpa adaptasi yang tepat, hasilnya tidak akan optimal.
Keberhasilan operasi bariatrik sangat bergantung pada pendampingan multidisiplin. Fokus utama meliputi:
Kecukupan cairan dan protein
Pencegahan kekurangan vitamin dan mineral
Pendampingan tahap demi tahap pola makan
Meski kapasitas makan berkurang, keinginan untuk makan tetap ada. Karena itu, edukasi dan kontrol jangka panjang sangat penting.
Selain fisik, perubahan besar juga terjadi pada sisi mental. Adaptasi terhadap tubuh dan pola hidup baru bisa memicu tekanan psikologis. Bahkan, data dari PubMed menunjukkan sekitar 15 persen pasien bariatrik mengalami depresi pascaoperasi, dipengaruhi perubahan hormon dan metabolisme.
Karena itu, skrining psikologis sebelum operasi dan pendampingan setelahnya sangat dianjurkan.
Simak Video "Video: WHO Keluarkan Pedoman Baru Syarat Terapi GLP-1 untuk Obesitas"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·