Satelit alami Bumi dilaporkan terus bergerak menjauh dari orbitnya secara perlahan dengan kecepatan rata-rata mencapai 3,8 centimeter per tahun berdasarkan data ilmiah hingga Kamis, 14 Mei 2026. Fenomena astronomi yang telah berlangsung miliaran tahun ini diprediksi akan mengakibatkan hilangnya fenomena Gerhana Matahari Total di masa depan.
Kepastian mengenai pergeseran jarak ini diperoleh melalui proyek Lunar Laser Ranging Experiment (LLRE) yang telah dimulai sejak misi Apollo pada akhir 1960-an. Para ilmuwan menggunakan metode penembakan sinar laser dari observatorium di Bumi ke reflektor yang berada di permukaan Bulan untuk mengukur jarak dengan tingkat akurasi milimeter.
Durasi pantulan sinar laser tersebut membutuhkan waktu sekitar 2,5 detik untuk perjalanan pulang-pergi, yang kemudian dikonversi menjadi data jarak presisi. Dilansir dari CNBC Indonesia, kecepatan menjauhnya Bulan ini secara kasat mata setara dengan laju pertumbuhan kuku manusia, namun memberikan dampak signifikan dalam skala waktu astronomi.
Perubahan jarak ini berdampak langsung pada ukuran visual Bulan yang terlihat dari permukaan Bumi. Saat ini, Matahari memiliki diameter 400 kali lebih besar dari Bulan, namun posisinya juga 400 kali lebih jauh, sehingga keduanya tampak berukuran sama dan memungkinkan terjadinya gerhana total.
Seiring bertambahnya jarak, ukuran tampak Bulan akan terus menyusut hingga tidak lagi mampu menutupi seluruh piringan Matahari secara sempurna. Kondisi ini sangat kontras dengan situasi 4 miliar tahun lalu saat Bulan nampak tiga kali lebih besar karena jaraknya yang masih sangat dekat dengan Bumi.
"Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total akan terus berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, penduduk Bumi kemungkinan besar akan menyaksikan keindahan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya," ujar Richard Vondrak, ilmuwan NASA.
Penjelasan mengenai batas waktu berakhirnya fenomena langit tersebut disampaikan Vondrak untuk menggambarkan dampak jangka panjang dari dinamika sistem Bumi-Bulan. Setelah periode tersebut terlampaui, penduduk Bumi hanya akan dapat menyaksikan gerhana Matahari cincin atau annular eclipse.
Selain pengaruh visual, menjauhnya Bulan juga menyebabkan interaksi gravitasi antara kedua benda langit tersebut melemah. Hal ini mengakibatkan terjadinya transfer energi dari rotasi Bumi ke orbit Bulan, yang secara simultan membuat putaran Bumi pada porosnya melambat secara bertahap.
Berdasarkan laporan asatunews.co.id, perlambatan rotasi ini secara teknis akan menambah durasi waktu dalam satu hari di Bumi menjadi lebih panjang. Meskipun perubahannya sangat kecil untuk dirasakan dalam keseharian manusia saat ini, fenomena tersebut membuktikan bahwa tata surya merupakan sistem dinamis yang terus berubah menurut catatan iflscience dan Detik iNET.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·