Bursa saham di kawasan Asia diprediksi bergerak menguat pada perdagangan Rabu, 15 April 2026, menyusul sentimen positif dari reli Wall Street yang membawa indeks S\&P 500 mendekati rekor tertinggi. Optimisme investor meningkat setelah muncul laporan mengenai rencana kelanjutan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang turut memicu penurunan harga minyak dunia.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, kontrak berjangka ekuitas menunjukkan penguatan di pasar Sydney, Tokyo, dan Hong Kong setelah indeks Nasdaq 100 melonjak 1,8 persen pada penutupan sebelumnya. Kenaikan Nasdaq tersebut mencatatkan rekor penguatan selama sepuluh hari berturut-turut, yang merupakan durasi terlama sejak tahun 2021.
Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sedang berupaya mengatur putaran kedua pembicaraan damai dalam beberapa hari mendatang guna meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Langkah diplomatik ini ditargetkan terlaksana sebelum masa gencatan senjata berakhir pada pekan depan untuk mencegah memburuknya krisis energi global.
"Ini bukan soal apakah ada kemajuan nyata dalam pembicaraan damai, tapi soal apakah kita punya alasan logis untuk berharap bahwa kemajuan itu mungkin terjadi," kata Steve Sosnick, Kepala Strategi di Interactive Brokers LLC. Ia menambahkan bahwa dalam kondisi saat ini, sentimen pasar sering kali memiliki pengaruh yang lebih kuat daripada realitas fisik di lapangan.
Harga minyak mentah Brent sempat merosot hingga di bawah 95 dolar AS per barel pada Selasa akibat proyeksi penurunan permintaan global oleh Badan Energi Internasional (IEA). Sementara itu, indeks harga produsen di Amerika Serikat tercatat naik 0,5 persen pada Maret, angka yang lebih rendah dari perkiraan awal para ekonom sebesar 1,1 persen.
Sektor perbankan menunjukkan performa beragam dengan saham Citigroup Inc yang menguat setelah melaporkan imbal hasil tertinggi dalam lima tahun terakhir. BlackRock Inc juga mencatatkan kenaikan saham sebesar 3 persen setelah berhasil membukukan aliran dana bersih masuk mencapai 130 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026.
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebagai dampak dari konflik di Timur Tengah. Menanggapi kondisi inflasi, pejabat Bank Sentral Jepang (BoJ) dilaporkan tengah mempertimbangkan kenaikan proyeksi inflasi dalam rapat kebijakan mendatang guna merespons fluktuasi harga energi dunia.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·