Cadangan Devisa RI April 2026 Turun Menjadi US$146,2 Miliar

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar US$146,2 miliar. Meskipun mengalami penurunan, level ini dinilai masih cukup aman sebagai bantalan eksternal untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, angka cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor. Jumlah ini berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang menetapkan batas minimal tiga bulan impor.

Namun, tren penyusutan cadangan devisa telah berlangsung selama empat bulan berturut-turut sejak awal tahun ini. Sepanjang kuartal I-2026, cadangan devisa sudah berkurang US$8,2 miliar, dan bertambah menjadi total US$10,27 miliar hingga April.

Penurunan posisi devisa ini terjadi di tengah melambatnya kinerja ekspor nasional. Kondisi tersebut diperburuk oleh sektor manufaktur yang mulai masuk ke zona kontraksi pada level 49,1.

Selama beberapa tahun terakhir, kekuatan cadangan devisa Indonesia sangat bergantung pada surplus perdagangan dari lonjakan harga komoditas global. Kini, fondasi utama dari sektor batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO) tersebut mulai tertekan.

Pelemahan aktivitas industri di negara mitra dagang utama seperti China menjadi alarm bagi ekonomi domestik. Indeks PMI manufaktur China melambat dari 52,1 pada Februari 2026 menjadi 50,8 pada Maret 2026.

Kondisi serupa terjadi di kawasan ASEAN yang turun ke level 51,8 dan India di posisi 53,8. Pelemahan industri global ini otomatis mengurangi permintaan bahan baku dan energi dari tanah air.

Kinerja Ekspor dan Dampak Harga Komoditas

Nilai ekspor migas Indonesia tercatat sebesar US$1,28 miliar, atau mengalami penurunan sebesar 11,84 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor non-migas terkoreksi 2,52 persen dengan nilai total US$21,25 miliar.

Penurunan paling signifikan terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewani serta nabati, termasuk CPO, yang merosot hingga 27,02 persen. Kakao juga mencatatkan penurunan tajam sebesar 50,89 persen.

Selain itu, komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah turut mengalami pelemahan sebesar 54,69 persen. Harga komoditas unggulan ini tidak lagi berada di puncak siklus seperti periode dua tahun sebelumnya.

Peran Global Bond dalam Ketahanan Eksternal

Meski ekspor melemah, posisi cadangan devisa masih terbantu oleh penerbitan obligasi global pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Ketahanan eksternal kini mulai bergantung pada arus pembiayaan modal.

"Perkembangan [cadangan devisa] ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah," sebut Laporan BI.

Pada awal tahun ini, pemerintah tercatat menerbitkan surat utang negara dalam mata uang dolar AS senilai US$2,7 miliar atau setara Rp45,6 triliun. Penawaran ini menarik minat investor global dengan total orderbook melebihi US$7,7 miliar.

Keberhasilan penyerapan global bond mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Namun, ketergantungan pada modal portofolio memiliki risiko karena sifatnya yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global.

Ketahanan eksternal ke depan diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang belum stabil. Surplus perdagangan berpotensi terus menyusut jika kinerja ekspor tidak segera pulih dalam waktu dekat.