Lhasa (ANTARA) - Para ilmuwan China pada Senin (27/4) mengumumkan bahwa mereka telah mencapai terobosan baru dalam teknologi kloning yak, dengan 10 bayi yak hasil kloning semuanya lahir secara alami di Daerah Otonom Xizang, China barat daya.
Anak-anak yak ini, yang terdiri dari tiga ekor yak hitam dan tujuh ekor yak putih, lahir antara 25 Maret hingga 5 April di sebuah pusat penangkaran dan penelitian yak di wilayah Damxung, Xizang. Semuanya memenuhi standar yang diharapkan dan terus menunjukkan pertambahan bobot tubuh.
"Ini menunjukkan teknologi tersebut telah beralih dari kesuksesan sekali waktu menjadi aplikasi skala besar yang stabil," kata Fang Shengguo, yang memimpin tim peneliti dari Universitas Zhejiang, pada konferensi pers di wilayah tersebut.
Kelahiran massal ini terjadi setelah yak hasil kloning pertama lahir pada Juli 2025, yang tumbuh sehat dan sekarang bobotnya sekitar 183 kilogram.
Yak (Bos grunniens) adalah sapi berbulu tebal dan panjang yang berasa dari dataran tinggi Himalaya dan Tibet, Asia Tengah.
Yak merupakan hewan endemik Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, yang berfungsi sebagai aset mata pencaharian utama bagi komunitas penggembala lokal dan komponen integral dari ekosistem dataran tinggi tersebut.
Tidak seperti kloning sapi biasa, yak telah mengembangkan mekanisme seluler unik untuk beradaptasi dengan kondisi udara yang minim oksigen dan radiasi ultraviolet yang kuat di dataran tinggi tersebut.
Proyek bersama yang dilakukan oleh para peneliti dari institut biologi dataran tinggi regional, pemerintah wilayah Damxung, dan Universitas Zhejiang ini menggunakan teknologi seleksi genom lengkap dan kloning sel somatik untuk menghasilkan yak hasil kloning.
Pertanian dan peternakan di dataran tinggi merupakan salah satu industri utama yang digalakkan Xizang selama periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030).
Teknologi kloning baru ini mengatasi tantangan lama seperti siklus pemuliaan genetik yang lambat dan penurunan kualitas yak, serta berfungsi sebagai sarana strategis yang mengintegrasikan inovasi ilmiah, mata pencaharian lokal, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan ekologis, sekaligus mendorong transformasi daerah tersebut menuju pertanian dataran tinggi modern dan berkualitas tinggi, kata Fang.
Pewarta: Xinhua
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·