Laporan terbaru dari Global Energy Monitor (GEM) mengungkapkan kesenjangan besar dalam pertumbuhan energi terbarukan global. Negara-negara G7 kini dinilai tertinggal jauh di belakang China dalam pengembangan kapasitas energi angin dan surya potensial tahunan.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, China menyumbang lebih dari 1,5 terawatt (TW) kapasitas energi angin dan surya skala utilitas potensial. Angka ini setara dengan total gabungan dari enam negara besar yakni Brasil, Australia, India, Amerika Serikat, Spanyol, dan Filipina.
Data dalam laporan bertajuk Global Solar and Wind Trackers menunjukkan potensi energi hijau di China melonjak dari 1,2 TW menjadi 1,5 TW pada 2025. Pertumbuhan signifikan juga terlihat di negara-negara luar G7 yang meningkat dari 2,7 TW menjadi 2,9 TW.
Kondisi berbeda terjadi pada negara-negara G7 yang kapasitas pembangkit listrik tenaga angin dan suryanya cenderung stagnan di angka 520 GW sejak 2023. Hal ini terjadi meski Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) telah mendesak peningkatan kapasitas hingga dua kali lipat pada 2030.
International Energy Agency (IEA) memproyeksikan sekitar 70% penambahan energi terbarukan di negara G7 berasal dari sektor angin dan surya skala utilitas. Namun, progres saat ini menunjukkan ketidaksesuaian yang nyata antara kapasitas yang ada dengan target yang dibutuhkan.
Hingga Desember 2025, China telah mengoperasikan lebih dari 1,6 TW proyek energi bersih. Jumlah tersebut mencakup 489 GW tenaga surya terdistribusi, memperkuat posisi Negeri Tirai Bambu sebagai pemimpin global dalam transisi energi.
Peringkat Global dan Hambatan Sektor Angin
Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan kapasitas operasional mencapai 368 GW. Pada tahun 2025, AS tercatat menambah 4,9 GW tenaga angin serta total 31,1 GW tenaga surya, baik skala utilitas maupun terdistribusi.
India menyusul di peringkat ketiga dunia dengan kapasitas operasional lebih dari 163 GW. Diren Kocakuşak, Analis Riset GEM, memberikan catatan kritis mengenai dinamika kepemimpinan sektor energi masa depan ini.
"Energi angin dan surya berkembang dengan sangat pesat, dan sebagian besar momentum itu berasal dari negara-negara yang dulunya dianggap sebagai pengikut energi. Pertanyaan sekarang, apakah negara-negara yang lebih kaya akan menutup kesenjangan antara ambisi dan pelaksanaan, atau menyerahkan kepemimpinan di sektor pertumbuhan yang berkembang pesat ini," ujar Diren Kocakuşak.
Secara global, rencana proyek PLTA dan PLTS skala utilitas mencapai rekor hampir 5 TW pada 2025. Sektor surya memimpin ekspansi dengan pertumbuhan 17% menjadi 2,2 TW, sementara sektor angin tumbuh 7% menjadi 2,7 TW.
Analisis Global Solar and Wind Trackers menyebutkan adanya kenaikan kapasitas fase konstruksi sebesar 11% secara tahunan.
"Kapasitas pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya skala besar yang telah diumumkan, dalam tahap pra-konstruksi, dan dalam tahap konstruksi tumbuh 11% dari tahun ke tahun, meningkat dari 4,4 TW menjadi lebih dari 4,9 TW," bunyi analisis tersebut.
Meskipun secara total meningkat, pertumbuhan tahunan proyek energi angin dan surya sebenarnya melambat jika dibandingkan tahun 2024. Hambatan politik dan kegagalan lelang menjadi pemicu utama penurunan rencana pengembangan energi angin secara global.
"Pada 2025, pengembang energi angin mengalami hambatan politik dan serangkaian kegagalan lelang tenaga angin. Penurunan rencana pengembangan energi angin dapat berdampak besar pada pembangkitan listrik di masa depan, mengingat faktor kapasitas energi angin yang lebih tinggi dibandingkan energi surya," papar analisis tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·