China Genjot Perdagangan dengan Asia Selatan Melalui Pameran Kunming

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kementerian Perdagangan China mengumumkan peningkatan kerja sama ekonomi dengan negara-negara Asia Selatan menjelang pembukaan China-South Asia Expo ke-10 di Kunming, Provinsi Yunnan. Langkah ini diambil untuk mendorong ekspansi perdagangan dan investasi di berbagai sektor industri guna mempercepat integrasi regional.

Nilai perdagangan bilateral antara China dan negara-negara Asia Selatan mencetak sejarah baru setelah melampaui angka 200 miliar dolar AS untuk pertama kalinya pada tahun 2025. Jumlah tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,7 persen secara tahunan, dan tren positif ini berlanjut hingga empat bulan pertama tahun 2026 dengan kenaikan mencapai 15,8 persen.

Pameran yang dijadwalkan berlangsung pada 11-16 Juni ini telah menarik partisipasi dari lebih dari 60 negara, wilayah, dan organisasi internasional. Wakil Gubernur Yunnan, Liu Yong, menjelaskan bahwa pihak penyelenggara menyediakan hampir 800 stan gratis bagi negara-negara Asia Selatan untuk memasarkan produk tekstil, kerajinan tangan, perhiasan, dan batu mulia ke pasar domestik China.

"This is about mutual benefit and shared prosperity," kata Liu Yong, Wakil Gubernur Yunnan.

Hubungan dagang kedua kawasan telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak pameran pertama kali digelar. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan China, negara tirai bambu tersebut kini berstatus sebagai mitra dagang terbesar bagi Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa.

Direktur Departemen Urusan Asia Kementerian Perdagangan China, Wang Liping, menyebut kawasan Asia Selatan memiliki potensi kerja sama yang sangat besar meskipun tingkat perkembangan ekonominya masih relatif rendah. China telah memberlakukan tarif nol persen untuk seluruh pos tarif bagi negara-negara kurang berkembang di Asia Selatan seperti Nepal dan Bangladesh, serta tarif preferensial untuk Pakistan dan Maladewa melalui perjanjian perdagangan bebas bilateral.

"the room for collaboration is enormous," kata Wang Liping, Direktur Departemen Urusan Asia Kementerian Perdagangan China.

Kedua wilayah ini membentuk pasar raksasa yang mencakup 3 miliar orang atau setara dengan seperlima dari Produk Domestik Bruto global. Wakil Menteri Perdagangan China, Yan Dong, menyerukan liberalisasi dan fasilitasi perdagangan yang lebih besar melalui optimalisasi platform pameran dan e-commerce lintas batas demi mempermudah akses ke pasar China.

"Simply put, governments will provide better services and build cooperation platforms to make it easier for businesses to trade, with lower tax and logistics costs," kata Yan Dong, Wakil Menteri Perdagangan China.

Banyak perusahaan asal China yang saat ini aktif menjajaki pasar luar negeri. Yan Dong menambahkan bahwa pemerintah akan memfasilitasi integrasi industri berdasarkan keunggulan sumber daya dan rencana pembangunan masing-masing pihak.

Selain sektor tradisional seperti infrastruktur, transportasi, listrik, dan telekomunikasi, China mulai membidik kerja sama baru di bidang e-commerce lintas batas, pembangunan hijau, ekonomi digital, hingga biomedis.

"We will share China's development experience in these sectors while driving coordinated growth across South Asia," kata Yan Dong, Wakil Menteri Perdagangan China.

Profesor Perdagangan Internasional di University of International Business and Economics Beijing, Cui Fan, menilai Asia Selatan memiliki kekayaan sumber daya alam dan tenaga kerja muda yang melimpah. Sementara itu, China memegang keunggulan dari sisi teknologi dan industri.

"Future cooperation should not be confined to primary product trade," kata Cui Fan, Profesor Perdagangan Internasional di University of International Business and Economics.

Kerja sama ke depan diharapkan dapat memperpanjang rantai industri, meningkatkan nilai tambah produk, serta memperkuat transfer teknologi. Cui Fan menegaskan pentingnya pembagian keahlian dalam sektor-sektor strategis seperti manufaktur fotovoltaik dan perakitan elektronik.

"We must extend industrial chains, increase added value, and strengthen technology transfer and sharing in areas such as photovoltaic manufacturing and electronic assembly," kata Cui Fan, Profesor Perdagangan Internasional di University of International Business and Economics.