Presiden China Xi Jinping memaparkan rencana ambisius lima tahun ke depan dalam sidang parlemen nasional di Beijing pada Rabu (4/3/2026) untuk memperkuat kapasitas militer dan kemandirian teknologi. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas meningkatnya tensi geopolitik global serta tekanan kebijakan ekonomi dari Amerika Serikat.
Pemerintah China mengalihkan fokus sumber daya secara besar-besaran ke sektor kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, hingga jaringan seluler 6G. Kebijakan ini merupakan upaya Beijing mengamankan rantai pasok dalam negeri dari ancaman pembatasan akses teknologi oleh pihak Barat.
Dilansir dari Tekno, China berencana menaikkan anggaran militer sebesar 7 persen pada tahun ini sehingga totalnya mencapai 277 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.710 triliun. Peningkatan ini dilakukan di tengah pengerahan kekuatan militer AS ke sejumlah wilayah konflik seperti Iran dan Venezuela.
Selain memperkuat Tentara Pembebasan Rakyat (TKR), Beijing kini agresif mengembangkan bio-manufaktur, energi fusi, dan antarmuka otak-komputer. Xi Jinping menilai bahwa pemenang persaingan internasional jangka panjang akan ditentukan oleh keunggulan inovasi teknologi yang menopang ekonomi.
"Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis," demikian isi dokumen rencana yang dipaparkan dalam sidang parlemen tersebut.
Ketegangan ini dipicu oleh sejarah panjang pembatasan akses teknologi yang dilakukan AS terhadap perusahaan China seperti Huawei dan ZTE. Meskipun Donald Trump sempat membatalkan larangan penjualan chip AI Nvidia ke China pada 2025, kebijakan pembatasan lainnya tetap berlanjut.
Pada Januari 2026, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) telah memberlakukan larangan penggunaan router terbaru buatan asing yang diduga menyasar perangkat keras asal China. Hal ini memperkuat keyakinan Beijing bahwa Washington akan terus berupaya menghambat kemajuan teknologi mereka.
Analis senior RAND China Research Center, Gerard DiPippo, menilai para pemimpin di Beijing memandang Washington akan terus berupaya membatasi perkembangan teknologi China secara sistematis. Kondisi ini memaksa China untuk memaksimalkan keunggulan domestik pada sektor-sektor strategis.
Eskalasi militer AS di Timur Tengah dan Amerika Selatan juga menjadi alarm bagi pemerintah China untuk mempererat hubungan dengan Rusia. Pengamat menilai tindakan keras AS terhadap sekutu-sekutu China justru mendorong Beijing memperkuat kemampuan pertahanan nasionalnya.
Implementasi visi ini diperkirakan akan mendorong pemerintah daerah di China menggenjot produksi teknologi masa depan secara masif. Dampaknya, produk-produk teknologi dan industri China diprediksi akan terus meluber ke pasar internasional untuk mencari pembeli baru di seluruh dunia.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·