Cinta Tidak Selalu Soal Materi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi: gaya pacaran. Foto: Dok. ChatGPT

Kita sering melihat perdebatan tentang pacaran di media sosial. Ada anggapan bahwa laki-laki ideal adalah laki-laki yang selalu membayar saat berkencan, menanggung berbagai kebutuhan hubungan, dan memiliki kondisi finansial yang mapan. Di sisi lain, perempuan kerap digambarkan sebagai pihak yang harus dibelikan hadiah, ditraktir, atau memiliki standar pacaran yang mahal.

Jika diperhatikan lebih jauh, standar pacaran di media sosial sering kali menampilkan gaya hidup tertentu, seperti makan di restoran mewah, memberi hadiah mahal, membeli barang bermerek, bahkan membayari kos, skincare, pakaian, dan berbagai kebutuhan tersier lainnya.

Kemewahan kemudian ditampilkan sebagai bentuk cinta, effort, bahkan dianggap sebagai kewajiban dalam hubungan. Tidak jarang muncul anggapan bahwa perempuan sebaiknya tidak berpacaran dengan laki-laki miskin. Contohnya, ada yang berkata, "Parfumku saja Dior seharga Rp1,2 juta, masa pacarku tidak mampu."

Masalahnya, hal-hal seperti itu kemudian dijadikan ukuran rasa sayang dalam hubungan. Akibatnya, ketika laki-laki tidak mampu memenuhi standar tersebut, mereka sering dicap mokondo atau diberi stigma negatif lainnya. Hubungan akhirnya lebih terlihat seperti pembuktian kemampuan finansial dibanding ruang untuk saling mengenal dan bertumbuh bersama.

Jika dilihat lebih dalam, standar pacaran yang ramai di media sosial umumnya berasal dari gaya hidup kelas menengah atas perkotaan. Namun, standar itu kemudian dianggap seolah-olah menjadi ukuran umum hubungan yang sehat dan romantis, padahal kondisi ekonomi setiap orang berbeda-beda. Ada yang sudah mapan, ada yang masih berjuang membangun hidup, dan ada juga yang baru memulai.

Lalu sebenarnya, seperti apa pacaran yang ideal? Apakah laki-laki memang harus selalu membayar semua kebutuhan pacaran? Apakah laki-laki yang belum mapan secara ekonomi memang tidak pantas memiliki hubungan?

Ilustrasi pacaran. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Demi menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya kemudian teringat pada gaya pacaran seorang teman bernama Rahardian Haryo yang saya anggap sebagai marhaenis sejati. Di tengah hiruk-pikuk standar pacaran media sosial yang penuh tuntutan gaya hidup dan simbol kemewahan, gaya pacaran Haryo dan pasangannya justru terlihat sangat berbeda. Menurut saya, hubungan mereka lebih mendekati makna pacaran yang ideal.

Hubungan mereka bukan dilandaskan oleh materi, melainkan benar-benar dibangun atas dasar cinta, kejujuran, dan saling memahami kondisi satu sama lain. Saya pernah mendengar ketika mereka sedang menelepon. Saat itu, pacar Haryo mengatakan ingin makan mi ayam. Namun, Haryo dengan jujur mengatakan bahwa dirinya sedang tidak punya uang.

Hal yang menarik adalah pacarnya tidak marah ataupun menuntut lebih, tetapi memahami kondisi tersebut. Ketika Haryo memiliki uang, ia akan mentraktir pacarnya makan. Begitu pula sebaliknya, terkadang pacarnya juga mentraktir Haryo ketika sedang memiliki uang lebih.

Bagi penulis, hubungan seperti itu terlihat lebih sehat dibanding hubungan yang penuh gengsi dan tuntutan. Ada rasa saling mengerti tanpa harus memaksakan keadaan ekonomi demi terlihat romantis seperti standar media sosial.

Haryo juga termasuk tipe laki-laki yang tetap berusaha membahagiakan pasangannya, meskipun tidak semua keinginan bisa langsung terealisasi. Artinya, effort dalam hubungan tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk kemewahan, tetapi juga bisa hadir dalam bentuk perhatian, kejujuran, dan kesungguhan untuk terus mengusahakan hubungan.

Hubungan mereka juga menunjukkan bahwa pacaran bukan hanya soal uang, melainkan juga soal saling tumbuh dan saling melengkapi. Haryo, misalnya, adalah pribadi yang menurut saya memiliki kecerdasan yang baik, tetapi terkadang emosional. Sementara pacarnya memiliki sifat penyayang dan selalu hadir dalam berbagai kondisi.

Saya beberapa kali melihat Haryo membantu pacarnya mengerjakan tugas dan menjelaskan berbagai hal yang belum dipahami. Sebaliknya, pacarnya mampu memenuhi kebutuhan emosional Haryo dengan cara menemani, menenangkan, dan tetap mendukungnya ketika berada dalam kondisi sulit.

Ilustrasi menghibur pacar yang sedang sedih. Foto: Shutterstock

Bahkan dalam hal sederhana, hubungan mereka menunjukkan bentuk simbiosis mutualisme yang nyata. Karena Haryo tidak memiliki sepeda dan laptopnya rusak, pacarnya pernah meminjamkan sepeda dan laptop miliknya agar Haryo tetap bisa menjalani aktivitas dan kebutuhannya. Dari situ terlihat bahwa hubungan yang sehat bukan hubungan yang hanya menuntut satu pihak terus memberi, melainkan hubungan yang saling membantu sesuai kemampuan masing-masing. Selain itu, Haryo dan pasangannya juga sama-sama menjaga kesetiaan dalam hubungan mereka. Hal-hal seperti inilah yang sering kali tidak terlihat di media sosial, padahal justru menjadi fondasi penting dalam hubungan yang sehat.

Jika melihat gaya pacaran Haryo dan pasangannya, pertanyaan "Apakah laki-laki harus selalu membayar saat pacaran?" sebenarnya tidak bisa dijawab secara mutlak. Semua kembali pada kondisi ekonomi masing-masing pasangan. Jika memang kondisi finansial laki-laki lebih baik dan ia ingin membayar, tentu tidak masalah. Namun, jika perempuan berada dalam kondisi yang lebih mampu secara ekonomi, tidak masalah juga jika ia mengambil peran tersebut. Yang terpenting, kemampuan membayar dalam hubungan tidak dijadikan sebagai alat untuk mendominasi, merendahkan, atau mengontrol pasangan.

Dalam hubungan, pembagian biaya juga bisa dilakukan dengan banyak cara. Misalnya, laki-laki membayar tiket nonton, sementara perempuan membayar minuman. Laki-laki membayar makanan utama, sedangkan perempuan membayar kopi atau camilan. Kalau dilakukan bergantian juga tidak masalah, misalnya minggu ini laki-laki yang membayar, minggu depan giliran perempuan. Intinya adalah menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing, bukan memaksakan standar media sosial yang belum tentu sesuai dengan realita hidup pasangan tersebut.

Memang benar, dalam banyak budaya, laki-laki sering diajarkan untuk memiliki mental provider dan tanggung jawab dalam hubungan. Saya juga sepakat bahwa laki-laki sebaiknya memiliki sikap bertanggung jawab, mau berusaha, dan memiliki keinginan untuk memberikan rasa aman serta memenuhi kebutuhan hubungan sesuai kemampuannya.

Namun, mental provider tidak berarti menjadikan laki-laki sebagai ATM berjalan yang tugasnya hanya memenuhi semua tuntutan materi pasangan. Tanggung jawab dalam hubungan juga berarti hadir secara emosional, menjaga kesetiaan, memberikan rasa aman, menghargai pasangan, dan tetap berusaha menjadi pribadi yang baik bagi hubungan tersebut.

Di sisi lain, penulis juga memahami bahwa uang tetap memiliki peran penting dalam hubungan. Pacaran tetap membutuhkan biaya untuk menjalani aktivitas bersama, makan, transportasi, komunikasi, hingga mempersiapkan masa depan. Karena itu, memiliki keinginan untuk bekerja keras, berkembang, dan memperbaiki kondisi ekonomi bukanlah sesuatu yang salah.

Namun, persoalannya muncul ketika uang dijadikan satu-satunya ukuran dalam menilai seseorang. Hubungan akhirnya lebih mudah berubah menjadi relasi transaksional, di mana rasa sayang diukur dari seberapa besar pengeluaran yang diberikan kepada pasangan.

Padahal, tidak semua orang lahir dari kondisi ekonomi yang sama. Ada yang sedang berjuang dari bawah, ada yang masih membangun masa depan, dan ada juga yang bertumbuh secara perlahan. Karena itu, hubungan yang sehat seharusnya tidak hanya melihat isi dompet seseorang, tetapi juga tanggung jawab, usaha, ketulusan, dan cara ia memperlakukan pasangannya.

Ilustrasi uang habis. Foto: Shutterstock

Karena itu, kejujuran soal kondisi ekonomi menjadi sangat penting dalam hubungan. Jangan sampai seseorang memaksakan diri demi terlihat mampu atau demi memenuhi tuntutan pasangan. Hari ini, banyak laki-laki yang terlalu memaksakan diri untuk terlihat sebagai provider sempurna sampai rela berutang, menggunakan pinjaman online, atau menghabiskan seluruh uangnya hanya demi membahagiakan pasangan—padahal setelah itu dirinya sendiri kebingungan memikirkan biaya makan dan kebutuhan hidup. Hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang hancur secara finansial maupun mental.

Percuma jika seseorang kaya raya, mampu membelikan barang mewah, tetapi ternyata tidak setia, suka selingkuh, kasar, atau tidak mampu hadir secara emosional untuk pasangannya. Dalam hubungan Haryo dan pasangannya, saya justru melihat bahwa kehadiran emosional itu sangat penting.

Pacarnya tetap hadir menemani Haryo dalam kondisi sulit, sedangkan Haryo juga berusaha menjadi pasangan yang setia dan bertanggung jawab. Dari hubungan mereka, terlihat bahwa cinta tidak selalu tentang siapa yang paling banyak mengeluarkan uang, tetapi tentang siapa yang benar-benar hadir dan saling menjaga satu sama lain.

Karena itu, anggapan bahwa laki-laki miskin tidak boleh dicintai sebenarnya sangat problematis. Jika logikanya cinta hanya berdasarkan uang, hubungan akan mudah runtuh ketika kondisi ekonomi berubah. Padahal, hidup manusia tidak selalu stabil. Ada masa seseorang berada di bawah, ada masa seseorang berkembang dan di atas. Hubungan Haryo dan pasangannya menunjukkan bahwa seseorang yang belum mapan secara ekonomi tetap bisa dicintai, selama ia memiliki tanggung jawab, kejujuran, kesetiaan, dan kemauan untuk bertumbuh bersama pasangannya.

Jika melihat gaya pacaran Rahardian Haryo dan pasangannya, saya kemudian merasa bahwa pacaran yang ideal sebenarnya bukan tentang siapa yang paling kaya atau siapa yang paling banyak membayar, melainkan tentang bagaimana dua orang bisa saling memahami dan berjalan bersama tanpa saling memberatkan.

Dari hubungan mereka, saya melihat bahwa inti hubungan yang sehat bukan sekadar materi, melainkan juga rasa nyaman, rasa aman, dan kemampuan untuk tetap saling hadir dalam berbagai keadaan. Cara mereka saling memahami kondisi ekonomi, saling membantu, hingga saling memenuhi kebutuhan emosional menunjukkan bahwa hubungan yang sehat dibangun dari kerja sama dan rasa saling menghargai, bukan dari gengsi atau tuntutan untuk selalu terlihat mewah.

Menurut saya, hubungan yang sehat juga seharusnya menjadi ruang yang membuat kedua orang merasa aman, nyaman, dan bisa menjadi diri sendiri tanpa takut diremehkan atau terus-menerus ditekan secara emosional. Hubungan yang sehat juga bukan hubungan yang dipenuhi rasa cemas, permainan tarik-ulur, gengsi, atau tuntutan yang hanya membebani salah satu pihak.

Ilustrasi pacaran. Foto: Thinkstock

Sebaliknya, hubungan yang sehat menghadirkan rasa tenang, karena kedua orang sama-sama merasa dihargai, didengarkan, dan diterima sebagai manusia. Ketika ada masalah, keduanya mau menyelesaikannya melalui komunikasi yang baik, bukan dengan menghilang atau saling mendiamkan.

Selain itu, usaha dalam hubungan juga seharusnya berjalan dua arah. Hubungan tidak seharusnya hanya diisi oleh satu pihak yang terus berjuang, terus mengalah, atau terus menanggung semuanya sendiri. Yang paling penting, hubungan menghadirkan rasa tenang, bukan overthinking setiap hari karena ketidakjelasan dan tekanan yang terus-menerus. Kejujuran mengenai kondisi masing-masing juga penting, termasuk memahami keterbatasan pasangan tanpa menjadikan materi sebagai ukuran utama nilai seseorang.

Sebab, hubungan pada dasarnya bukan hanya soal ekonomi semata. Hubungan juga tentang rasa aman, komunikasi, perhatian, dukungan emosional, kesetiaan, dan kemampuan untuk saling memahami sebagai manusia.

Tidak semua bentuk cinta harus diukur dengan uang, hadiah mahal, atau gaya hidup mewah. Ada orang yang mungkin belum mapan secara finansial, tetapi mampu hadir saat pasangannya sedang kesulitan, mau mendengarkan, menghargai perasaan pasangannya, dan bertanggung jawab terhadap hubungan yang dijalani. Hal-hal seperti itu juga merupakan bentuk effort yang sering kali tidak terlihat di media sosial.

Hubungan yang sehat juga seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh bersama, bukan hubungan yang membuat salah satu pihak merasa tertinggal, dimanfaatkan, atau hanya dijadikan alat pemenuh kebutuhan.

Dalam relasi yang baik, kedua orang saling mendukung perkembangan satu sama lain, saling menguatkan ketika sedang berada di titik rendah, dan sama-sama berkembang sebagai individu. Mereka juga saling melengkapi, karena setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Ketika satu pihak sedang lemah, pihak lain hadir untuk menguatkan, bukan justru menuntut tanpa memahami keadaan pasangannya.