Jakarta (ANTARA) - COO PT Krakatau Steel Tbk Sidik Darusulistyo menegaskan industri baja merupakan sektor strategis yang berperan penting dalam menjaga ketahanan nasional dan mendukung berbagai program pembangunan Indonesia.
“Steel (baja) ini adalah industri strategis. Mother of industry, semuanya perlu steel. Dan ini sangat strategis bagi kita sebagai bangsa,” kata Sidik dalam forum diskusi di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Jakarta, Kamis.
Sidik mengatakan industri baja nasional tengah menghadapi tantangan berat karena margin keuntungan yang relatif tipis dibanding sektor lain, sementara kebutuhan modal kerja dan efisiensi operasional sangat besar.
Menurut dia, margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) industri baja berada di sekitar 5-7 persen, dengan laba bersih berkisar 3-5 persen, sehingga perusahaan harus menjaga efisiensi proses produksi dan mempercepat perputaran modal kerja.
Ia menjelaskan Krakatau Steel saat ini fokus mempercepat cash conversion cycle, mengurangi persediaan barang, dan mengefisienkan seluruh lini operasi agar dapat memperkuat profitabilitas perusahaan.
“Cash conversion cycle kita itu saat ini masih di lima bulan, padahal targetnya di 3,5 bulan. Jadi sekarang kita streamline process, kurangi inventory, kurangi work in progress,” ujar dia.
Selain efisiensi internal, Sidik menilai industri baja nasional juga membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan termasuk pemerintah terkait sisi kebijakan dan lembaga pendidikan yang berkaitan dengan riset dan teknologi agar mampu bersaing dengan produk impor, khususnya dari China.
Ia menyebut konsumsi baja dunia mencapai sekitar 1,8 miliar ton per tahun, dengan sekitar 1 miliar ton berasal dari China, sementara konsumsi Indonesia sekitar 10 juta ton dengan utilisasi industri domestik sekitar 42 persen.
Namun, sekitar 25 persen konsumsi baja nasional masih dipenuhi impor.
“Kalau baja China leak masuk ke Indonesia, bisa dibayangkan dampaknya. Hampir semua negara melakukan proteksi industri baja-nya karena ini industri strategis,” ungkap dia.
Menurut Sidik, struktur biaya industri baja sangat dipengaruhi harga bahan baku dan energi, sementara biaya gas alam di Indonesia dinilai masih lebih tinggi dibanding beberapa negara pesaing.
Ia mencontohkan harga gas alam di China disebut berada di bawah 2 dolar AS per MMBTU, sedangkan di Indonesia dapat mencapai sekitar 6,5 dolar AS dan bahkan lebih tinggi ketika menggunakan LNG.
Karena itu, Krakatau Steel saat ini aktif berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Komisi VI DPR RI terkait penguatan perlindungan industri baja nasional.
Ia menambahkan industri baja juga memiliki keterkaitan langsung dengan sektor pertahanan dan proyek strategis nasional, sehingga ketergantungan impor dinilai dapat memengaruhi ketahanan nasional.
“Semua memiliki peran. Melindungi pasar baja domestik adalah strategi yang banyak dilakukan di dunia. Kalau kita tergantung impor, kalau kita tergantung yang lain maka ini membahayakan juga ketahanan nasional kita," ungkap dia.
Lebih lanjut, Sidik menjelaskan bahwa Krakatau Steel saat ini memperkuat kolaborasi dengan sejumlah BUMN strategis seperti PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT INKA untuk mendukung pengembangan industri nasional.
Selain itu, Krakatau Steel juga bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pengembangan kapal nelayan berbahan baja.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada awal April 2026 telah menekankan pentingnya penguatan struktur industri baja nasional.
Kementerian Perindustrian juga menyiapkan berbagai langkah penguatan industri tersebut, termasuk pengendalian impor, pemberlakuan SNI wajib, serta kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk meningkatkan daya saing industri domestik.
Baca juga: Pengamat: Percepat penerapan kebijakan antidumping produk baja
Baca juga: Kemenperin beri penjelasan soal tutupnya Krakatau Osaka Steel
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·