Jakarta (ANTARA) - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berada di kisaran 5,2–5,3 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi dan belanja pemerintah yang tinggi.
“Satu-satunya yang mengkontraksi pertumbuhan ekonomi itu adalah dari komponen net ekspor,” ujar Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal dalam diskusi publik di Jakarta, Rabu.
Berdasarkan Brief Report: Quarterly Economic Review Q1-2026 yang dirilis CORE pada Rabu, tingkat konsumsi rumah tangga masih relatif kuat hingga kuartal I-2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,86 persen pada kuartal I-2026, meningkat dari 2,77 persen pada periode sama tahun sebelumnya.
Optimisme konsumen juga membaik, tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang naik menjadi 115,5 dari 110,7 pada kuartal IV-2025.
Meski konsumsi rumah tangga tumbuh, CORE menilai kualitasnya belum kuat karena terkonsentrasi pada kebutuhan dasar, sementara belanja non-esensial cenderung melemah.
Dari sisi fiskal, laporan menyebut bahwa akselerasi belanja negara menjadi penopang pertumbuhan, meski di saat yang sama memperlebar defisit anggaran.
Belanja negara tumbuh sekitar 31 persen secara tahunan, yang mendorong defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga akhir Maret 2026, setara 34,8 persen dari target tahunan sebesar Rp689,1 triliun.
Lonjakan terutama berasal dari belanja pemerintah pusat yang naik 47,7 persen secara tahunan menjadi Rp610,3 triliun, didorong program strategis kementerian/lembaga, bantuan sosial dan Program Makan Bergizi Gratis.
Sementara itu, transfer ke daerah dan dana desa hanya terealisasi Rp204,8 triliun, terkontraksi 1,1 persen secara tahunan.
Namun demikian, Faisal menyoroti komponen net ekspor yang masih menjadi penahan pertumbuhan. Pengalokasian komoditas ekspor utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) untuk pasar domestik melalui kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) dan program B50 disebut menjadi faktor yang memperlambat pertumbuhan ekspor.
Kebijakan DMO menyebabkan ekspor manufaktur dan pertambangan terkontraksi masing-masing 14,4 persen dan 22,8 persen.
Pertumbuhan ekspor minyak hewani/nabati juga melambat dari 71,53 persen pada triwulan I 2025 menjadi 16,19 persen pada triwulan I 2026.
Faisal menambahkan realisasi pertumbuhan kuartal I berpotensi lebih tinggi, bahkan mencapai 5,4–5,5 persen. Namun, menurut dia, kinerja tersebut diproyeksikan tidak akan berlanjut pada kuartal berikutnya.
CORE memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II hingga IV-2026 berpotensi melambat signifikan akibat tekanan global, kenaikan harga energi, serta kebijakan efisiensi domestik.
Secara keseluruhan, CORE Indonesia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 di kisaran 4,9–5,1 persen.
Baca juga: Ekonom soroti upaya lindungi UMKM dari dampak konflik global
Baca juga: CORE: Kopdes Merah Putih perlu perkuat keterkaitan ekonomi desa
Baca juga: Ekonom: Insentif padat karya jangan hambat investasi teknologi
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·