Bagi Daniel William Tunasey Salamena, ini adalah tahun terakhirnya sebagai mahasiswa Perbanas Institute. Dan ia tahu betul, tak ada cara yang lebih baik untuk menutupnya selain membawa pulang trofi bersama Rhinos Perbanas di Campus League.
Momen itu terasa lebih bermakna mengingat bagaimana sosok Daniel Salamena di luar kampus. Pemain yang kini aktif membela Rans Simba Bogor di Indonesia Basketball League (IBL) ini sudah merasakan bagaimana kerasnya dunia profesional. Tapi justru di situlah menariknya, seorang pemain IBL yang masih ingin turun lapangan memperjuangkan nama almamaternya, bukan demi statistik pribadi, melainkan murni untuk satu kata: juara.
Di sela waktu luangnya, Daniel Salamena berbincang dengan Campus Sport Indonesia soal kesempatan “Last Dance”-nya itu, lalu bagaimana ia menyeimbangkan karier profesional dengan kehidupan kampus, hingga apa yang ia lihat dari Campus League sebagai kompetisi baru yang ia yakini bisa mengubah lanskap basket mahasiswa Indonesia.
Berikut ini petikan wawancaranya:
Kenapa kamu memilih Perbanas Institute untuk melanjutkan studi?
Sebenarnya kalau true story-nya, pas itu aku sudah di salah satu tim di liga profesional dan mereka juga menawarkan salah satunya kampus Perbanas buat aku belajar di sana. Jadi ya aku mikir karena Perbanas ini juga di Jakarta dan tim aku juga masih di Jakarta, jadi ya aku ambil Perbanas.
Apakah basket kampusnya juga yang membuat kamu memilih Perbanas Institute?
Ya, salah satunya karena pas itu juga basketnya juga lumayan terkenal Perbanas, jadi ya aku deal saja sih sama Perbanas.
Sebagai student-athlete, bagaimana cara membagi waktu antara kuliah dan karier profesional?
Kalau aku cara bagi waktu sih, karena kan kalau kita latihan di liga profesional itu kan tiap hari dari Senin sampai Jumat, dan Sabtu-Minggu itu kita tanding. Nah itu kalau cara aku karena berhubung di tim aku latihannya tuh sekali sehari, jadi masih ada banyak waktu yang kosong sebenarnya.
Cuma memang beberapa kali ada yang kayak mungkin ada acara ini itu, tapi ya tetap aku sempatkan gimana pun caranya harus ada istilahnya aku bagi waktu dikitlah buat kayak dengar apa kata dari dosen-dosen, atau aku bangun hubungan sama dosen-dosen kalau memang aku nggak bisa hadir atau kayak gimana.
Aku tetap bangun hubungan biar istilahnya tuh relasi antara aku dengan kampus tuh tetap terjaga dan mereka juga pasti bisa ngebantu dan mereka juga mengerti. Sejauh ini kampus support banget.
Pernahkah ada momen harus main di klub tapi bentrok dengan jadwal kelas atau ujian di kampus? Bagaimana menghadapinya?
Kalau itu lebih seringnya ada tanding terus ada kelas biasanya. Kelas atau mungkin ada ujian apa ya mungkin tetap ada, cuma ya itu biasanya aku langsung hubungin dosen yang aku tuju, aku ajak ngobrol, aku izin kayak "Ibu mohon maaf saya ada pertandingan."
Biasanya tuh dosen-dosen juga pasti mengerti, terutama di dosen-dosen akuntansi beberapa ada beberapa dosen karena saya juga punya relasi di bidang kemahasiswaan terutama, jadi mereka juga tetap support dan mereka juga mengerti.
Jadi pas aku ada misalnya ada ujian, mereka bisa kayak aku istilahnya ujian susulan nantinya setelah aku selesai bertanding, mereka pasti kasih kesempatan buat aku.
Kamu sudah berkarier profesional tapi tetap aktif di kegiatan akademik. Sepenting apa gelar akademik buat kamu?
Kalau aku pribadi, gelar pendidikan ini sangat penting, apalagi kita main basket tuh nggak yang selamanya. Dan main basket tuh nggak ada garansi kayak “oh kita bisa 10 tahun atau bisa 20 tahun kita di liga basket itu.”
Kita nggak punya garansi itu. Ya satu-satunya garansi ya kita harus punya sarjana di mana jadi dalam diri aku sendiri aku tanamkan ya pendidikan itu harus ada dan harus aku punya gitu.
Jadi pendidikan ini bisa support kita kalau misalnya kita punya S1 istilahnya, itu pasti ke depannya kalau emang kita udah nggak di basket pasti kita masih bisa bekerja istilahnya gitu. Jadi pendidikan itu penting banget buat aku.
Apa rencana karier kamu setelah dari basket?
Sebenarnya kalau buat dream job itu istilahnya aku belum punya apa yang aku pengin kayak dari dalam hati. Sempat dulu sebelum aku main basket mungkin aku kayak pengin oh mungkin jadi pegawai bank tuh mungkin seru kali ya.
Tapi lama-kelamaan aku nggak kayak belum ada kepikiran kayak dream job aku sesungguhnya tuh apa belum ada. Cuma aku sendiri penginnya aku buka bisnis gitu.
Pertama kali masuk roster IBL, hal apa yang bikin kamu culture shock?
Culture shock di IBL lebih ke senior-senior mungkin ya. Aku sebenarnya belum pas itu aku pas masuk di RANS itu aku sudah start duluanlah istilahnya. Aku kalau aku dari SMA ke tim IBL itu pertama kali di 2021 dan yang bikin aku kaget karena aku istilahnya pemain binaan dan masih kecil.
Jadi aku kagetnya oh ternyata mereka tuh profesionalnya tinggi banget dan disiplinnya tuh tinggi. Mereka tuh kayak kita yang biasanya kalau di pas SMA kita latihannya misalnya latihan jam 3 kita datang jam 3, jam 3 kurang 5 tuh kan masih nggak apa-apa biasanya.
Tapi kalau di profesional sudah beda, ternyata kalau misalnya kita latihan jam 3, satu jam sebelum tuh mereka sudah datang semua. Mereka sudah mulai nembak-nembak, bahkan yang biasanya kayak ada pasang tapping, mereka sudah duluan.
Jadi satu jam itu full mereka buat tambahan buat nembak, mereka nyari ritmenya mereka. Jadi ya itu salah satu culture shock yang pas aku masuk "Wah gila disiplin banget ya ternyata orang-orang di profesional tuh."
Mereka kayak menganggap ini tuh bukan kayak hobi mereka doang, tapi ini pekerjaan yang mereka yang mereka tuh punya kewajiban untuk kayak menjaga kondisi mereka dan menjaga performa mereka di lapangan.
Sejauh apa gap kompetisi level mahasiswa dengan IBL?
Oh jauh banget, jauh banget antara mahasiswa dengan profesional tuh jauh banget. Kalau kita di mahasiswa istilahnya kita masih kayak ya sudah bukan asal main ya, tapi kayak kita istilahnya having fun-lah, kita main seadanya.
Tapi kalau di profesional kita tuh sudah mulai bukan diatur ya kayak istilahnya kita punya peraturan-peraturan tertentu, kita punya mekanisme-mekanisme tertentu yang kayak ada video session, istilahnya kita melihat bagaimana lawan ini.
Jadi kalau di mahasiswa kayak misalnya ini ada pemain jago oh dia bisa jago terus-terusan, tapi kalau sudah di liga profesional belum tentu kayak misal kita hari ini dapat 20 poin, besokannya kita belum tentu dapat 20 poin.
Karena kalau di IBL itu istilahnya liga profesional itu istilah mereka tuh merancang kayak sebuah sistem yang emang dasarnya tuh buat membangun tim. Jadi ya pas kita masuk di liga profesional tuh itu sistemnya sudah mulai bekerja jadi ya kita harus lebih siap dan mereka tuh lebih profesional istilahnya.
Apa pesan buat student-athlete yang bermimpi main di klub profesional?
Pesan aku terutama itu harus disiplin dan kerja keras. Jangan jangan cepat puas terhadap apa yang sudah kamu terima.
Kamu bisa jadi pemain bagus pemain paling jago di kampus, belum tentu kamu bisa jadi pemain yang jago di IBL nanti. Jadi jangan cepat puas, yang penting tuh harus tetap humble dan harus mau nambah-nambah-nambah.
Itu sih yang paling kayak di mindset aku terutama. Itu aku merasa diri aku pun tuh belum cukup even aku sudah sampai sekarang, aku merasa diri aku tuh belum cukup karena di atas langit tuh masih ada langit. Jadi tetap fokus dan harus kerja keras pastinya.
Saat ini ada kompetisi baru antar-kampus bernama Campus League. Apa pandanganmu soal kompetisi itu?
So far karena sebenarnya kan Campus League perdana ya tahun ini baru berjalan. Aku lihat beberapa dari beberapa regional sudah jalan Campus League.
Aku merasa kayak tertarik banget sih pengin join banget gimana Campus League mumpung aku juga masih mahasiswa dan semoga juga umur aku masih cukup buat bisa main Campus League karena aku juga masih pengin main buat buat Perbanas.
Tapi yang aku lihat pribadi euforianya tuh seru banget, atmosfernya seru, bagaimana cara mereka membuat sebuah event yang yang terorganisir tuh seru banget. Dan juga kayak kita tuh sebagai atlet basket terutama di Campus League tuh kayak punya tujuan jadinya. Kayak kita bisa juara, kita bisa ke katanya kan kita bisa ke China mewakilkan Indonesia.
Jadi menurut aku pribadi Campus League lumayan. Bukan lumayan lagi, tapi sudah sangat bagus dan sangat menjamin buat anak-anak kampus nih buat bisa berkompetisi dengan baiklah.
Apakah kamu akan turut serta membela Perbanas Institute di Campus League?
Nah ini belum ada kabar bagaimana kelanjutan cuma memang sudah ditanya kesediaan aku bermain atau nggaknya aku sudah bilang kemungkinan besar aku bisa main karena tanggal mulainya itu tanggal 24 (Mei), aku juga pas ada playoff juga di IBL mungkin bertabrakan tapi mungkin bisa aku dibuat nanti di nasional atau mungkin aku main di semifinal final atau kayak gimana.
Tapi aku sudah bilang aku usahakan yang terbaiklah. Kalau emang diizinin dan kampusnya mau untuk masukin nama aku ya aku bersedia banget buat main buat Trinos Perbanas.
Jika Perbanas Institute lolos ke The Nationals. Apa target pribadimu?
Oh kalau target pribadi jujur di Campus League aku nggak ada. Aku cuma pengin kasih piala lagi buat Perbanas Institute. Itu saja.
Karena aku nggak mau terlalu mikirin bagaimana nanti aku di sana. Jadinya kalau aku mikirin target pribadi aku, aku jadinya bermainnya egois. Jadi aku penginnya ya sudah aku bermain buat tim dan tim ini bisa dapat hasil yang terbaik terutama aku pengin juara lagi bareng Trinos Perbanas di Campus League.
Ini bakal jadi last dance kamu bersama Perbanas Institute?
Sudah pasti. Karena emang ini sudah benar-benar tahun terakhir aku di Perbanas. Dan itu aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·