Dante: Perlunya inovasi dalam edukasi imunisasi guna tekan zero dose

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Kalau kita tidak melakukan imunisasi secara cepat, zero dose ini tidak dilakukan dengan cepat, maka ini akan menjadi masalah di kemudian hari. Turun sedikit saja, langsung timbul KLB

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan perlunya inovasi dalam edukasi guna mengatasi masalah anak yang tidak imunisasi, mengingat masih ada 2,3 juta anak Indonesia yang zero dose.

Wamenkes Dante ​​​​​​​di Bandung, Jawa Barat, Selasa, mengatakan salah satu isu yang menghalangi peningkatan cakupan imunisasi adalah pemahaman yang berbeda dalam beragama, misalnya tentang halal-haramnya vaksin, atau soal hoaks bahwa imunisasi menyebabkan autisme.

Dia memastikan bahwa imunisasi adalah halalan thayyiban (halal dan baik).

"Memang imunisasi campak itu pada bahan dasarnya untuk memisahkan sel-sel growth-nya itu menggunakan tripsin babi. Menggunakan tripsin babi, tetapi kemudian dipurifikasi atau dimurnikan. Dipisahkan. Hingga akhirnya pada sampai produk jadinya tripsin babi itu sudah tidak ada lagi," kata Wamenkes Dante.

Dia menyebutkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun sudah menguji hal tersebut. Oleh karena itu, katanya, peran pemuka agama menjadi penting dalam edukasi ini.

Baca juga: Wamenkes: Strategi Bandung bisa ditiru guna tekan angka zero dose RI

"Kalau kita tidak melakukan imunisasi secara cepat, zero dose ini tidak dilakukan dengan cepat, maka ini akan menjadi masalah di kemudian hari. Turun sedikit saja, langsung timbul KLB (Kejadian Luar Biasa)," kata Wamenkes Dante.

Dia mencontohkan Aceh sebagai salah satu bentuk inovasi edukasi tersebut. Dia menyebutkan salah satu bupati di Aceh mengeluarkan surat keputusan yang mewajibkan minimal sekali dalam sebulan ada khutbah Jumat tentang imunisasi.

Menurutnya, langkah ini patut dipuji dan direplikasi di berbagai daerah, karena ternyata justru ayah adalah yang menentukan apakah anak diimunisasi atau tidak, meski sosialisasi banyak digencarkan bagi ibu-ibu di posyandu.

Terkait vaksin membuat anak autis, kata dia, berdasarkan studi empiris yang melibatkan jutaan orang, tidak ada efek samping semacam itu. Jadi, lanjut dia, bisa dipastikan keamanan vaksin.

Baca juga: Kemenkes perkuat imunisasi nasional, fokus jangkau anak zero-dose

Wamenkes pun membagikan pengalaman pribadinya, bahwa anaknya yang berusia 22 tahun dan 16 tahun mendapatkan vaksin lengkap, dan keadaannya baik-baik saja.

"Tidak ada masalah, tidak ada efek samping ketika vaksinasi. Saya hanya sharing berdasarkan pengalaman yang ada di dalam diri saya dan ingin mencontohkan bahwa imunisasi itu aman. Dan yang penting, halalan thayyiban," katanya.

Saat ini, lanjutnya, pemerintah secara masif menggalakkan edukasi pada hari kerja di kementerian dan lembaga dan dengan bantuan media in, untuk mengedukasi bapak agar menyadari pentingnya imunisasi.

Harapannya jika semua bekerja sama, dalam lima tahun zero dose di Indonesia bisa dihilangkan. Dengan demikian, katanya, kejadian seperti KLB campak beberapa waktu lalu dapat dihindari.

Baca juga: Kemenkes kejar pelengkapan imunisasi guna tangani angka zero dose naik

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.