Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengintegrasikan kawasan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, dan Gasibu menjadi satu kesatuan ruang publik pada Senin (11/5/2026). Dilansir dari Detikcom, langkah ini diambil dengan menghentikan akses kendaraan bermotor di Jalan Diponegoro guna memberikan keleluasaan bagi aktivitas masyarakat.
Penyatuan kawasan ini bertujuan menciptakan area yang lebih fungsional tanpa menghilangkan keberadaan Jalan Diponegoro itu sendiri. Transformasi fisik dilakukan dengan mengganti material permukaan jalan dari aspal menjadi batu andesit untuk meningkatkan nilai estetika kawasan tersebut.
"Penyatuan antara Gasibu dan Gedung Sate menjadi satu kesatuan karena tidak lagi dilewati kendaraan umum," ujar KDM, dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).
Mantan Bupati Purwakarta tersebut menjelaskan bahwa perubahan material jalan ini mengadopsi konsep yang telah diterapkan di kawasan ikonik Kota Bandung lainnya. Penggunaan batu alam diharapkan dapat memperkuat karakter kawasan pusat pemerintahan provinsi tersebut.
"Intinya asalnya aspal diganti menjadi batu, seperti di Braga," ucap KDM.
Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk mengatasi persoalan kemacetan yang sering terjadi saat adanya kegiatan penyampaian aspirasi masyarakat. Selama ini, penutupan Jalan Diponegoro secara mendadak saat demonstrasi kerap mengganggu arus lalu lintas di sekitarnya.
Pihak profesional di bidang penataan ruang turut memberikan tanggapan terkait proyek strategis di jantung Kota Bandung ini. Ketua Umum Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia periode 2022-2025, Dian Heri, menilai positif integrasi tersebut karena menghilangkan konflik pergerakan antara pejalan kaki dan kendaraan.
Namun, Dian menekankan pentingnya langkah antisipatif terhadap perubahan pola pergerakan kendaraan di area penunjang. Sosialisasi yang masif kepada warga juga dipandang perlu agar transisi fungsi jalan ini dapat dipahami sepenuhnya oleh masyarakat luas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·