Demokrat AS Kritik Hegseth: Kontroversi Serangan Iran & Krisis Moral Militer

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pete Hegseth. Foto: Timothy A. Clary/AFP

Perang modern selalu menghadirkan dua wajah: satu yang diklaim sebagai upaya menjaga keamanan nasional, dan satu lagi yang menampilkan realitas getir berupa korban sipil. Kritik yang dilayangkan oleh sejumlah senator Partai Demokrat terhadap Menteri Pertahanan Pete Hegseth membuka kembali perdebatan klasik tersebut. Apakah operasi militer Amerika Serikat di Iran semata-mata strategi pertahanan, atau justru telah melampaui batas hukum dan etika perang?

Surat senator yang dipimpin oleh Elizabeth Warren dan Chris Van Hollen bukan sekadar kritik administratif. Ia merupakan sinyal serius tentang retaknya konsensus internal di Washington terkait bagaimana perang harus dijalankan, khususnya dalam konteks konflik Iran yang sejak awal sarat sensitivitas geopolitik.

Hukum Perang dan Batas yang Dipertanyakan

Ilustrasi mengajukan gugatan hukum. Foto: Proxima Studio/Shutterstock

Dalam hukum humaniter internasional, prinsip utama yang harus dijaga adalah pembedaan (distinction) antara kombatan dan warga sipil, serta proporsionalitas dalam penggunaan kekuatan. Tuduhan bahwa serangan menggunakan rudal Tomahawk menghantam sekolah dasar di Minab hingga menewaskan ratusan orang siswa dan sipil, serta serangan lain di Lamerd, secara langsung menempatkan kebijakan militer AS dalam sorotan tajam.

Seperti yang saya ikuti pada The New York Times, dalam artikel berjudul “Democratic Senators Fault Hegseth’s Leadership on Iran” karya John Ismay yang terbit 20 April 2026, para senator menilai bahwa beberapa keputusan militer tidak hanya berpotensi melanggar hukum federal dan internasional, tetapi juga melemahkan norma perlindungan sipil. Sorotan terhadap empat serangan yang menewaskan warga sipil menjadi inti kritik, sekaligus memperlihatkan adanya dugaan kegagalan dalam penerapan prinsip kehati-hatian (precaution) dalam operasi militer.

Jika tuduhan ini terbukti valid, persoalannya bukan hanya kesalahan taktis, melainkan juga kegagalan struktural dalam rantai komando dan pengambilan keputusan. Ini menyentuh aspek legalitas sekaligus legitimasi—dua fondasi utama dalam setiap operasi militer negara demokratis.

Risiko Militer dan Retaknya Konsensus Internal

Ilustrasi konflik. Foto: Shutterstock

Kritik para senator juga menyoroti aspek yang sering kali luput dari perhatian publik: keselamatan pasukan itu sendiri. Kebijakan yang dianggap ceroboh atau tidak terukur dapat meningkatkan risiko serangan balasan, memperluas eskalasi konflik, dan menempatkan tentara Amerika dalam posisi yang lebih rentan.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Hegseth tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik domestik Amerika Serikat, terutama di bawah bayang-bayang kepemimpinan Donald Trump. Partai Demokrat secara historis cenderung lebih menekankan multilateralisme dan kepatuhan terhadap norma internasional, sementara pendekatan kebijakan luar negeri Trump sering diasosiasikan dengan pragmatisme keras serta unilateralitas.

Namun, melihat kritik ini semata sebagai manuver politik partisan juga berisiko menyederhanakan persoalan. Ada dimensi institusional yang lebih dalam: Kongres, sebagai cabang legislatif, memiliki fungsi pengawasan terhadap eksekutif, termasuk dalam penggunaan kekuatan militer. Ketika senator menuntut akuntabilitas, itu mencerminkan mekanisme checks and balances yang sedang bekerja, meskipun dalam suasana politik yang terpolarisasi.

Implikasi Global: Norma Internasional di Ujung Tanduk

Ilustrasi Amerika Serikat. Foto: Lindsey Wasson/REUTERS

Yang paling mengkhawatirkan dari kritik ini adalah implikasinya terhadap tatanan internasional. Amerika Serikat selama ini memposisikan diri sebagai salah satu penjaga norma global, termasuk dalam isu perlindungan warga sipil di zona konflik. Ketika negara dengan pengaruh sebesar itu dituduh melanggar prinsip yang sama, kredibilitas moralnya ikut dipertaruhkan.

Dampaknya tidak berhenti pada citra. Negara-negara lain—baik sekutu maupun lawan—dapat menggunakan preseden ini untuk membenarkan tindakan serupa. Dalam jangka panjang, ini berpotensi menciptakan erosi norma, di mana hukum humaniter internasional tidak lagi menjadi rujukan utama, tetapi sekadar retorika politik.

Selain itu, bagi Iran, insiden seperti ini dapat menjadi alat propaganda yang efektif untuk menggalang dukungan domestik dan internasional. Narasi tentang agresi dan pelanggaran kemanusiaan akan memperkuat posisi mereka dalam diplomasi global, sekaligus mempersulit upaya de-eskalasi konflik.

Dalam konstelasi geopolitik yang semakin kompleks, kritik terhadap kepemimpinan Hegseth mencerminkan lebih dari sekadar persoalan teknis militer. Ia menyingkap ketegangan antara kekuatan dan moralitas, antara kepentingan nasional dan tanggung jawab global. Di titik ini, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil perang, melainkan juga arah masa depan norma internasional itu sendiri.