Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 secara resmi menetapkan tiga anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai kandidat penerima penghargaan kategori Polisi Berdedikasi dalam rapat di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026). Para kandidat dinilai memiliki kontribusi besar dalam operasional kepolisian, pelestarian alam, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Penetapan nama-nama tersebut dilakukan melalui diskusi ketat oleh jajaran dewan pakar yang terdiri dari Dr. Habiburokhman, Alissa Qotrunnada Wahid, Putu Elvina, Dr. Mas Achmad Santosa, dan Gufron Mabruri. Dilansir dari Detikcom, ketiga nama yang terpilih adalah Aiptu Dafit Rico Dermawan, Brigpol Kamaludin, dan Kombes Eko Budhi Purwono.
Aiptu Dafit Rico Dermawan, yang menjabat sebagai Kasubnit II Unit VI Satreskrim Polresta Padang, dikenal luas melalui aksi penyamarannya dalam memberantas kejahatan. Selama 24 tahun mengabdi di dunia reserse, David Wewe secara rutin mengunggah dokumentasi penangkapan sebagai langkah transparansi kerja kepada publik.
Sari Lenggogeni, seorang Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, memberikan kesaksian mengenai kinerja responsif personel kepolisian tersebut dalam menangani laporan masyarakat di lapangan.
"Tapi memang dedikasi ya, kalau dia memang tuntas mencarinya. Sesuai dengan SOP, kalau ada laporan, ada apa, ada apa. Misalnya, hal-hal viral 'Nih, ada yang pemalakan, segala macam'. Nah, kalau ada laporan kan orang pada take, @David Wewe, David Wewe. pasti dia lakukan. Berarti respons cepat beliau," ucap Sari.
Pelayanan terbaik kepada masyarakat menjadi prinsip utama bagi Dafit dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota Polri di wilayah Sumatera Barat.
"Masalah kita melayani masyarakat dulu. Jadi, saya selalu menerima apapun itu laporan dari masyarakat. Apakah dia curhat di posko atau sekecil apapun masalah kita terima dulu. Kira berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Kita utamakan untuk dedikasi kita dari kepolisian dulu," kata David Wewe.
Kandidat kedua, Brigpol Kamaludin, merupakan Bhabinkamtibmas di Desa Taliwang, Nusa Tenggara Barat, yang fokus pada upaya pengentasan pengangguran. Sejak tahun 2021, ia telah mendistribusikan bibit ternak dan pertanian secara cuma-cuma kepada ratusan warga untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Bambang Akbar, seorang warga setempat, mengaku berhasil mengubah nasibnya dari pengangguran menjadi pengusaha dengan penghasilan belasan juta rupiah berkat pendampingan tersebut.
"Saya kan dulu motor aja ndak punya, cuma pengangguran, tiap hari, duduk, tidur, kaum rebahanlah istilahnya. Tapi sekarang berkat Pak Kamal, usaha saya ayam pedaging, bebek pedaging, terus usaha holti, cabai, padi, jagung," kata Bambang.
Inisiatif pemberian bibit gratis oleh Kamaludin bertujuan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah tugasnya secara mandiri.
"Peternak itu yang saya support 226 orang. Kalau petani itu 120 orang dari petani baik sayur, kunyit, terus jagung, itu yang saya bantu. Kalau UMKM baru 11 orang. Perputaran ekonominya kisaran di Rp 30-40 juta untuk per bulannya," kata Kamaludin.
Sementara itu, Kombes Eko Budhi Purwono selaku Dirbinmas Polda Riau masuk dalam nominasi melalui inovasi program Green Policing. Program ini mengintegrasikan penegakan hukum lingkungan dengan edukasi masyarakat agar tidak bergantung pada eksploitasi hutan.
Eko menjelaskan bahwa visi utama dari Green Policing adalah mengajak masyarakat menjadi agen pelestarian alam demi menjaga fungsi paru-paru dunia.
"Niat Green Policing adalah kembali menghijaukan, tetapi kebesertaan kebersamaan masyarakat untuk menjaga itu, tidak paham kalau kita bicara saja, tapi mereka harus kita masuk melalui memperkenalkan dan kebersamaan bersama pemerintah, sehingga mereka menjadi agent betul, untuk dirinya dan masyarakat sekitarnya, 'nggak usah lagi, Bang, udah menjadi paru-paru dunia yang Indonesia punya'," ujar Kombes Eko.
Dody Rasyid Amin, seorang penggerak lingkungan di Riau, menyoroti tantangan di wilayah Kampar Kiri Hulu di mana keterbatasan akses pendidikan memicu maraknya kegiatan ilegal logging.
"Tempat saya ini suaka margasatwa, jadi ada 10 desa dalam kawasan hutan, nggak punya listrik, nggak punya jalan, nggak punya internet, jadi memang anak-anak di sini kesempatan untuk sekolah itu terbatas. Mendapat peluang kerja layak itu terbatas, itu banyak yang ilegal logging, mengambil hutanlah kan," kata Dody.
Sebagai solusi, puluhan pemuda setempat kini dilatih menjadi personel keamanan dan dipersiapkan sebagai Duta Green Policing guna mengubah pola pikir ekonomi masyarakat perambah hutan. Masyarakat dapat memberikan masukan terkait ketiga kandidat ini melalui uji publik yang dibuka mulai Kamis, 7 Mei 2026.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·