Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar mengatakan di era disrupsi saat ini, humas tidak bisa lagi menjadi sekadar “pemadam kebakaran” atau muncul ketika krisis telah terjadi.
“Transformasi untuk humas, humas di sini harus proaktif. Tidak bisa lagi jadi pemadam kebakaran, tapi dia juga harus aktif,” kata Benny saat menjadi narasumber dalam sesi kelas strategi komunikasi pada acara Kopdar Humas Imigrasi 2026 di Cibubur, Rabu.
Dia menjelaskan bahwa lanskap komunikasi saat ini telah berubah sehingga perlu transformasi dari pendekatan birokratis ke respons publik. Benny pun mengingatkan bahwa humas adalah pusat komando narasi.
Menurut dia, humas di era disrupsi perlu bertransformasi dari sekadar menunggu arahan menjadi lebih membaca situasi, dari menjawab menjadi mengelola ekspektasi, dan dari klarifikasi menjadi membangun kepercayaan.
Benny berpesan humas tidak boleh hanya bekerja saat ada masalah. Harus ada perencanaan matang, pemetaan pemangku kepentingan, hingga kampanye komunikasi yang konsisten dan berkelanjutan.
Dia menggarisbawahi pentingnya respons cepat ketika menghadapi krisis. Satu jam pertama merupakan waktu krusial yang menentukan keberhasilan penanganan krisis komunikasi.
“Krisis sekarang akan semakin sering karena globalisasi itu menciptakan kompleksitas dan arahnya kaos, makanya krisis itu harus dipahami di 60 menit pertama, ini pertarungannya di sini,” ujarnya.
Menurut dia, respons cepat merupakan prinsip dalam menghadapi krisis.
“Di era sekarang, kalau tidak dijawab cepat maka kita yang akan digulung lebih,” katanya.
Namun dia menilai respons cepat juga perlu diiringi kehati-hatian. Jika data belum lengkap, ia menyarankan penggunaan prinsip “yes, but”, yakni menyampaikan respons sementara sambil melengkapi data.
Dia menekankan larangan memberikan pernyataan "tanpa komentar" saat menghadapi krisis. Pernyataan tersebut dianggap sebagai pengakuan kegagalan yang justru memicu tekanan lebih besar.
“Never say (jangan pernah katakan) 'no comment'. Kenapa? Karena 'no comment' sebenarnya dianggap sebagai kesalahan. Makanya kalau orang dikasih jawaban 'no comment', langsung digeber, dicecar,” kata dia.
Benny menjelaskan bahwa permohonan maaf saja tidak cukup untuk memulihkan keadaan. Permintaan maaf harus diikuti dengan tiga syarat utama agar dianggap kredibel oleh publik.
“Minta maaf itu bukan berarti selesai semuanya. Minta maaf dituntut satu, autentik tidak minta maafnya? Kedua, dia dibuktikan tidak dengan tindak lanjutnya? Yang ketiga, corrective action-nya (langkah perbaikan) dilakukan tidak?” jelas dia.
Menutup sesi itu, Benny mengingatkan reputasi yang dibangun selama puluhan tahun dapat hancur dalam hitungan menit. Maka dari itu, reputasi perlu dikelola dengan baik dan berkelanjutan.
Kopdar Humas Imigrasi merupakan acara tahunan yang digelar Fungsi Komunikasi Publik Direktorat Jenderal Imigrasi. Acara itu dihadiri oleh ratusan kepala kantor imigrasi dan rumah detensi imigrasi dari seluruh Indonesia.
Baca juga: Dirut ANTARA bekali kemampuan komunikasi mahasiswa di Banjarmasin
Baca juga: Dirut ANTARA: Humas mitra strategis media sajikan informasi kredibel
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·