Dirut Bulog: Distribusi masif beras SPHP demi jaga stabilitas harga

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dilakukan secara masif demi menjaga stabilitas harga komoditas tersebut di seluruh Indonesia.

"Penyaluran beras SPHP ini dilakukan sepanjang tahun sebagai instrumen strategis untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan masyarakat dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau,” kata Rizal saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Rizal menyampaikan Bulog terus memperkuat perannya sebagai operator utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras nasional melalui program SPHP. Adapun stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola BUMN pangan itu saat ini mencapai 5 juta ton lebih.

Bulog bersinergi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan penyaluran beras SPHP berjalan tanpa jeda sejak awal tahun 2026, sehingga ketersediaan pasokan tetap aman dan harga terkendali di seluruh wilayah Indonesia.

Rizal menyebutkan realisasi penyaluran beras SPHP hingga akhir April 2026 tercatat mencapai lebih dari 380 ribu ton.

Realisasi itu terdiri dari 221 ribu ton perpanjangan program di tahun 2025 yang dilanjutkan pada periode Januari-Februari 2026, serta 167,3 ribu ton di antaranya merupakan program tahun 2026 yang disalurkan sejak Maret.

"Capaian ini menunjukkan konsistensi dalam menjaga kesinambungan distribusi beras kepada masyarakat tanpa adanya gangguan transisi program di awal tahun," katanya menjelaskan.

Lebih lanjut Rizal menyampaikan sepanjang tahun 2026 Bulog mendapatkan penugasan untuk menyalurkan total 828 ribu ton beras SPHP. Penugasan itu mengacu pada Surat Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 204/TS.03.03/K/2/2026 tanggal 11 Februari 2026 terkait Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).

Ia mengaku Bulog terus memperluas kanal distribusi guna memastikan jangkauan yang lebih luas dan merata.

Penyaluran dilakukan melalui berbagai jalur, antara lain pedagang pengecer di pasar rakyat, BUMN, koperasi, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, outlet binaan pemerintah daerah, koperasi instansi pemerintah, serta melalui dukungan TNI dan Polri, termasuk melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Distribusi juga diperkuat melalui jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) yang kini telah mencapai sekitar 80 ribu titik di seluruh Indonesia, serta diperluas ke jaringan ritel modern dan swalayan.

"Langkah ini menjadi bagian dari strategi kami untuk memastikan akses masyarakat terhadap beras SPHP semakin mudah dan merata di berbagai wilayah," katanya.

Beras SPHP disalurkan dalam kemasan 5 kilogram dengan kualitas beras medium dan dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET), yaitu Rp12.500 per kilogram untuk zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, Sulawesi), Rp13.100 per kilogram untuk zona 2 (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan), serta Rp13.500 per kilogram untuk zona 3 (Maluku dan Papua).

"Upaya stabilisasi ini juga didukung oleh ketersediaan stok CBP yang dikelola Bulog dalam kondisi sangat kuat, mencapai lebih dari 5 juta ton per akhir April 2026," kata Rizal menambahkan.

Dengan dukungan stok yang memadai, jaringan distribusi yang luas, serta sinergi lintas sektor, Rizal memastikan program SPHP terus berjalan optimal sepanjang tahun 2026 guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras serta menjamin akses pangan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.