DIY bentuk karakter berbudi luhur melalui Pendidikan Khas Kejogjaan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membentuk karakter generasi muda menjadi jalma kang utama atau berbudi pekerti luhur melalui Pendidikan Khas Kejogjaan, yang merupakan program pendidikan berbasis budaya Yogyakarta.

"Peluncuran hari ini adalah penanda penting bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan telah beranjak dari gagasan menuju gerakan nyata, dari konsep menuju implementasi," kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan peluncuran Pendidikan Khas Kejogjaan di SMAN 6 Yogyakarta, Senin.

Oleh karena itu, Sri Sultan mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, hingga masyarakat luas untuk bersama-sama menghidupkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari.

Gubernur DIY mengatakan, di tengah arus perubahan dunia yang bergerak semakin cepat, pendidikan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tantangannya bukan hanya bagaimana melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang utuh.

"Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri," katanya.

Dalam konteks inilah Yogyakarta memilih jalannya, dan meyakini bahwa pendidikan tidak boleh dipahami semata-mata sebagai proses pengajaran, melainkan juga sebagai proses pembudayaan.

Baca juga: Pendidikan Khas Kejogjaan segera diterapkan di seluruh sekolah DIY

"Pendidikan harus menjadi ruang bertemunya pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup. Oleh karena itu, Pendidikan Khas Kejogjaan yang hari ini kita luncurkan bukan sekadar sebuah program, melainkan juga sebuah gerakan kebudayaan," kata Sultan.

Menurut Sultan, gerakan ini berangkat dari falsafah luhur Hamemayu Hayuning Bawana, yang menuntun manusia untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.

"Dari sanalah pendidikan diarahkan bukan hanya untuk mencetak manusia yang pandai, tetapi juga manusia yang mampu menjaga keseimbangan hidup, memiliki kepekaan sosial, serta bertanggung jawab terhadap lingkungannya," katanya.

Gubernur DIY mengatakan, Pendidikan Khas Kejogjaan juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga hidup dalam Tri Sentra Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Bahkan bertumpu pada sinergi khas Yogyakarta, yakni Keraton, Kampus, dan Kampung, yang menjadi ekosistem hidup bagi tumbuhnya karakter generasi.

Melalui Pendidikan Khas Kejogjaan, Sri Sultan mengatakan, pemerintah daerah sesungguhnya sedang menghadirkan ruang bersama, tempat nilai, budaya, dan pembelajaran bertemu dalam laku yang hidup.

Baca juga: Wagub DIY: Pendidikan karakter dan budaya tumbuhkan budaya toleransi

"Dari geguritan, macapat, tari, hingga ekspresi para siswa, kita dapat merasakan bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal penjiwaan. Sebagaimana pitutur luhur mengajarkan ngèlmu iku kalakoné kanthi laku," katanya.

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.