Donald Trump Desak Arab Saudi dan Qatar Segera Akui Israel

Sedang Trending 41 menit yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan diplomatik dengan mendesak Arab Saudi dan Qatar agar segera mengakui kedaulatan Israel melalui kesepakatan Abraham Accords pada Senin (26/5/2026). Langkah ini ditujukan untuk melengkapi negosiasi perjanjian damai sementara dengan Iran, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Melalui sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump mengumumkan perkembangan positif terkait proses diplomasi yang sedang berjalan dengan pihak Teheran. Selain dua negara Teluk tersebut, ia juga menyebut Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania dalam rencana integrasi regionalnya.

"untuk menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, sudah sepatutnya diwajibkan bagi semua negara tersebut, secara bersamaan, menandatangani Abraham Accords," tulis Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menekankan pentingnya komitmen segera dari sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah untuk menyukseskan draf perjanjian damai yang tengah disusun. Menurutnya, penolakan untuk bergabung akan dipandang sebagai bentuk ketidakseriusan dalam mewujudkan stabilitas kawasan.

"Langkah ini harus dimulai dengan penandatanganan segera oleh Arab Saudi dan Qatar, dan negara-negara lain harus mengikuti jejak mereka," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia juga menambahkan konsekuensi bagi negara-negara yang tidak bersedia ikut serta dalam kesepakatan diplomatik tersebut.

"Jika tidak, mereka seharusnya tidak menjadi bagian dari kesepakatan ini karena hal itu menunjukkan niat yang buruk," tambah Trump, Presiden Amerika Serikat.

Dalam narasi lanjutannya, Trump memaparkan gagasan spekulatif mengenai potensi keterlibatan Iran di masa depan dalam Abraham Accords, meskipun hal tersebut dinilai mustahil oleh berbagai pengamat karena pertentangan ideologis yang mendalam.

"Wow, jika itu terjadi, itu akan menjadi sesuatu yang sangat spesial!" ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.

Tekanan publik ini muncul di tengah upaya Trump meredam kritik dari faksi garis keras di dalam negeri, termasuk Senator Republik Lindsey Graham yang menentang kelonggaran terhadap Teheran. Hingga kini, Riyadh dan Doha tetap memegang prinsip hanya akan mengakui Israel jika negara Palestina merdeka berhasil dibentuk.