Polri Pastikan Tidak Ada Sabotase dalam Kasus Listrik Padam di Sumatera

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Tim gabungan Bareskrim Polri dan PT PLN (Persero) memastikan tidak ada indikasi sabotase dalam peristiwa mati lampu massal atau blackout di sejumlah wilayah Sumatera pada Jumat (22/5) malam. Insiden tersebut diduga kuat terjadi akibat faktor teknis dan pengaruh cuaca ekstrem.

Penyelidikan mendalam dilakukan oleh aparat kepolisian bersama pihak otoritas listrik untuk mengungkap penyebab utama gangguan massal ini. Berdasarkan laporan hasil investigasi sementara yang dilansir dari Detikcom, pemadaman total tersebut berdampak signifikan pada sejumlah fasilitas publik termasuk lampu penerangan jalan dan lalu lintas di pusat Kota Medan.

Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim), Irjen Nunung Syaifuddin, memaparkan temuan awal timnya mengenai kerusakan infrastruktur kelistrikan yang menjadi titik awal gangguan.

"Sampai dengan saat ini bisa kami pastikan tidak ditemukan ada ya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut," ujar Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Aparat penegak hukum menyimpulkan hal tersebut setelah melihat kondisi fisik dari kabel transmisi yang terputus di lapangan.

"Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrim yang menyebabkan gangguan sistem kelistrikan," sambung Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Tim penyidik menilai kerusakan yang terjadi lebih menyerupai dampak dari tekanan alamiah ketimbang pemotongan secara sengaja menggunakan alat tertentu.

"Kenapa kami bisa pastikan kalau ini bukan sabotase, karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapi. Dia lebih bersifat berbentuk serabut," tegas Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Polisi juga telah memanggil sejumlah saksi untuk memperkuat akuntabilitas dari proses pembuktian ilmiah ini.

"Jadi kalau itu sabotase, pasti potongan potongannya lebih rapi (bekas potongan alat)," lanjut Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Prosedur pemeriksaan dipastikan berjalan terbuka guna menghindari spekulasi liar di tengah masyarakat.

"Seluruh proses investigasi kami lakukan secara profesional, transparan dan komprehensif untuk memastikan penyebab utama kejadian secara ilmiah dan akuntabel," jelas Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Petugas di lapangan telah memeriksa Tower 175 dan 176 jaringan transmisi di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi yang mengalami kerusakan kabel SUTET 275 kV jalur Muara Bungo-Sungai Rumpeh.

"Sampai dengan saat ini, bisa kami pastikan tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout tersebut. Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan pada sistem transmisi kelistrikan," kata Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Pusat Laboratorium Forensik kini sedang meneliti beberapa kemungkinan teknis yang menyebabkan kabel tersebut hancur.

"Adapun dugaan sementara penyebab terputusnya kabel transmisi masih dalam proses pendalaman dengan beberapa kemungkinan, antara lain faktor mekanik akibat gesekan dan pengaruh angin, faktor panas akibat sambungan longgar yang menimbulkan rongga, maupun faktor tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem," jelas Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Meskipun investigasi masih berjalan, pihak otoritas memastikan pasokan daya bagi masyarakat kini telah kembali ke sedia kala.

"Saat ini kondisi sistem kelistrikan di wilayah Sumatera telah berhasil dipulihkan sepenuhnya. Dan berdasarkan keterangan resmi dari PT PLN, pasokan listrik di seluruh wilayah Sumatera telah kembali normal 100 persen serta beroperasi dengan aman dan stabil," ucap Nunung Syaifuddin, Wakabareskrim Irjen.

Di sisi lain, Direktur Transmisi PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menjelaskan rincian kronologi runtuhnya sistem interkoneksi akibat fenomena tegangan tinggi.

"Kami dari PT PLN Persero menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, terutama kepada masyarakat di wilayah daerah Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga ke Aceh atas terjadinya gangguan listrik yang terjadi pada hari Jumat yang lalu," kata Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Menurut penjelasan manajemen, kendala bermula saat cuaca buruk memicu lepasnya dua sirkuit utama di jalur timur kelistrikan Sumatera.

"Terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5. Ini merupakan input-an menuju jalur 500 kV di bagian timur. Akibat hujan lebat dan angin kencang, kedua sirkuitnya trip sehingga jalur 500 kV keluar dari sistem," jelas Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Putusnya sirkuit tersebut memaksa daya besar berpindah mendadak ke jalur barat sehingga memicu ketidakstabilan frekuensi yang masif.

"Perpindahan arus tadi tersebut, itu menyebabkan fenomena yang kami sebut power swing, atau biasanya kita kenal dengan osilasi. Jadi tegangan maupun frekuensi berosilasi sangat tinggi pada saat itu, karena berpindahnya ke arah 275 kV tadi," jelas Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Sistem pengaman otomatis kemudian memisahkan diri demi mencegah kerusakan perangkat kelistrikan yang jauh lebih parah.

"Nah, ketika osilasi tersebut sampai pada satu tahap teknikal tertentu, maka di jalur barat tadi, di jalur 275 kV tadi, itu juga perlu mengisolasikan diri agar jangan sampai power swing tadi itu menyebabkan gangguan yang lebih luas. Nah kemudian di titik tersebut, arah Muara Bungo ke Sungai Rumbai, dua sirkuit juga trip," lanjut Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Pemisahan ini berakibat pada ketimpangan beban, di mana wilayah utara mengalami keruntuhan sistem secara beruntun akibat kekurangan pasokan pembangkit.

"Apa yang terjadi di daerah utara adalah di sana kekurangan dari pembangkit, frekuensinya rendah. Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit ada yang tidak tahan, kemudian trip, lalu terjadi domino effect, trip satu," terang Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Akibatnya, pemadaman total tidak terhindarkan bagi jutaan pelanggan di lima provinsi bagian utara Sumatera.

"Kemudian, pembangkit-pembangkit lain frekuensinya semakin turun. Kemudian, akhirnya pembangkit-pembangkit di bagian utara trip semua, sehingga pelanggan-pelanggan kami di Jambi, di Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh mengalami pemadaman," sambung Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).

Guna mencegah risiko serupa di masa mendatang, manajemen akan mengintensifkan mitigasi dengan alat pemantau suhu pada titik-titik rawan.

"Tentunya kami melakukan inspeksi double. Kami menggunakan infrared untuk melihat apakah sambungan kabel mulai panas berlebih atau tidak. Jika ditemukan kenaikan suhu 10 hingga 15 derajat di atas normal, kami langsung lakukan pemeliharaan khusus," imbuh Edwin Nugraha Putra, Direktur Transmisi PT PLN (Persero).