Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan pertemuan bilateral dengan Pemimpin China Xi Jinping di China pada Kamis (14/5/2026) untuk membahas penguatan stabilitas hubungan ekonomi dan politik serta de-eskalasi situasi geopolitik internasional antara AS dan Iran.
Kunjungan ini menjadi momen krusial lantaran menjadi lawatan pertama Presiden AS ke Negeri Tirai Bambu dalam satu dekade terakhir. Hubungan kedua negara saat ini berada dalam koridor kompetisi strategis di kawasan Indo Pasifik, Laut China Selatan, masalah Taiwan, hingga perang dagang, seperti dilansir dari Detikcom.
AS memerlukan peran China sebagai mitra global demi mendorong penyelesaian konflik setelah proposal perdamaian dengan Iran belum menemui titik temu sejak pengumuman gencatan senjata pada 7 April 2026. Situasi di Timur Tengah kian memanas akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang direspons dengan blokade laut oleh militer AS.
Upaya mediasi damai sebelumnya yang difasilitasi oleh Pakistan pada 11 April 2026 juga telah berakhir buntu. Ketegangan semakin diperparah oleh dampak dua kali agresi militer AS bersama Israel pada tahun 2025 dan 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
China memiliki posisi tawar strategis karena menguasai lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dengan nilai mencapai sekitar 32,5 miliar dollar AS atau setara Rp549,3 triliun. Selain itu, Beijing tercatat memiliki pengaruh politik kuat di Timur Tengah setelah sukses memediasi normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Iran pada tahun 2023 melalui Joint Trilateral Statement.
Secara ekonomi, berdasarkan data tahun 2025, AS masih memimpin sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) senilai 30,34 triliun dollar AS, sementara China membayangi di posisi kedua dengan PDB sebesar 19,53 triliun dollar AS.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Pemimpin China menegaskan arah hubungan kedua kekuatan ekonomi besar dunia ini ke depan.
"hubungan AS dan China harus dibangun berdasarkan kemitraan, bukan persaingan. Konfrontasi hanya membawa kerugian bagi kedua pihak." kata Xi Jinping, Pemimpin China.
Meskipun kedua negara bekerja sama untuk de-eskalasi di Timur Tengah, isu krusial lain seperti persoalan Taiwan masih menjadi ganjalan utama dalam hubungan bilateral mereka.
"langkah salah AS dalam kasus Taiwan dapat mengubah hubungan kedua negara," kata Xi Jinping, Pemimpin China.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·