Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing pada Rabu (13/5/2026) untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi bersama Presiden China Xi Jinping. Kunjungan kenegaraan ini bertujuan meredakan ketegangan mendalam antara dua negara ekonomi terbesar dunia tersebut.
Dilansir dari Detikcom, Trump mendarat menggunakan pesawat Air Force One dan disambut oleh ratusan pemuda China serta karpet merah. Dalam rombongan kepresidenan kali ini, turut hadir tokoh bisnis terkemuka seperti CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang.
"Selamat datang," sapa para pemuda China sambil melambaikan bendera kecil China dan Amerika Serikat.
Kedatangan delegasi bisnis ini dianggap sebagai sinyalemen kuat adanya upaya penyelarasan kepentingan ekonomi. Jensen Huang dilaporkan baru bergabung dalam rombongan saat pesawat singgah di Alaska, di tengah kebijakan larangan penjualan chip kecerdasan buatan canggih Nvidia ke China.
"Saya akan meminta Presiden Xi, seorang pemimpin yang luar biasa, untuk membuka Tiongkok sehingga orang-orang brilian dapat menunjukkan kehebatan mereka," tulis Trump di media sosial saat dalam perjalanan menuju Beijing.
Trump dan Xi dijadwalkan melangsungkan pembicaraan resmi di Great Hall of the People pada Kamis (14/5) pukul 10.00 waktu setempat. Sejumlah agenda telah disiapkan, termasuk kunjungan ke situs sejarah Temple of Heaven serta jamuan makan malam kenegaraan dan sesi minum teh.
Fokus pembicaraan diperkirakan akan mencakup isu perdagangan, Taiwan, serta situasi di Timur Tengah. Sebelum berangkat dari Washington, Trump sempat memberikan pernyataan terkait posisi China sebagai pembeli minyak utama dari Iran yang saat ini tengah terlibat konflik dengan aliansi Amerika Serikat-Israel.
"I rasa kita tidak membutuhkan bantuan apa pun terkait Iran. Dari Tiongkok dan bahwa Xi telah cukup baik dalam hal ini," ujar Trump kepada wartawan.
Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri merespons positif kedatangan pemimpin Amerika Serikat tersebut. Pihak Beijing menyatakan kesiapan untuk menjalin dialog yang konstruktif guna mengelola perbedaan yang ada selama ini.
"Tiongkok siap bekerja sama dengan Amerika Serikat... untuk memperluas kerja sama dan mengelola perbedaan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China pada Rabu.
Langkah diplomatik ini diambil di tengah desakan Beijing agar tercipta perdamaian di kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga dilaporkan telah berkomunikasi dengan Pakistan untuk membantu mediasi antara Iran dan Amerika Serikat guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·