Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin, mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera menyiapkan langkah mitigasi konkret guna menghadapi potensi bencana kemarau panjang atau El Nino Godzilla. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (25/4/2026) merespons prediksi ancaman cuaca ekstrem yang akan melanda dalam waktu dekat.
Azis menekankan bahwa kesiapan pemerintah sangat krusial agar tidak terjadi kegagapan dalam menangani dampak bencana. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, ia mengusulkan agar Indonesia mengadopsi pembangunan kurikulum kebencanaan yang telah diterapkan di Jepang.
"Jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama. Ketika BMKG sudah memberikan imbauan mengenai curah hujan tinggi maupun ancaman 'El Nino Godzilla', kita harus siap. Mencegah jauh lebih baik dan lebih murah daripada mengobati atau menangani dampak yang sudah terjadi," ujar Muhamad Abdul Azis Sefudin, Anggota Komisi VIII DPR RI.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut mengingatkan pentingnya belajar dari pengalaman banjir rutin di Sumatra Utara yang menimbulkan kerugian finansial hingga ratusan miliar rupiah. Ia menyoroti statistik kebencanaan nasional yang menunjukkan tren tinggi dengan angka mencapai hampir 4.000 kejadian setiap tahunnya.
"Selain itu, pengawasan terhadap izin-izin lahan dan hutan harus diperketat untuk mencegah longsor dan banjir bandang yang berdampak sistemik pada pembangunan nasional," kata Muhamad Abdul Azis Sefudin, Anggota Komisi VIII DPR RI.
Azis menyatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus mulai mengubah orientasi kerja. Fokus lembaga tersebut diharapkan bergeser dari sekadar penanganan pascabencana menjadi penguatan aspek sosialisasi dan pencegahan dini kepada masyarakat luas.
"Saya mendorong pemerintah untuk serius memasukkan kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah, seperti yang diterapkan di Jepang," ujar Muhamad Abdul Azis Sefudin, Anggota Komisi VIII DPR RI.
Kekhawatiran Azis didasari pada data yang menunjukkan tingginya angka korban jiwa dari kalangan anak-anak saat terjadi bencana. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan mengenai prosedur penyelamatan diri yang efektif bagi kelompok usia rentan tersebut.
"Menanamkan budaya sadar bencana sejak dini tidak hanya menyelamatkan nyawa mereka hari ini, tetapi juga membentuk generasi masa depan yang lebih bijak dalam memilih tempat tinggal yang layak dan aman di masa depan," kata Muhamad Abdul Azis Sefudin, Anggota Komisi VIII DPR RI.
Melalui kurikulum khusus, anak-anak yang menetap di wilayah Cincin Api atau Ring of Fire diharapkan memiliki insting bertahan hidup yang tajam. Pemahaman mendalam mengenai jalur evakuasi dan langkah darurat sesuai karakteristik wilayah, baik pegunungan maupun pesisir, menjadi target utama dari usulan pendidikan kebencanaan ini.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·