Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,18 persen sepanjang 2026, di tengah tingginya ketidakpastian global. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen.
Andry memperkirakan inflasi Indonesia berada di level 3,53 persen pada 2026, naik dibanding proyeksi 2025 sebesar 2,92 persen. Nilai tukar rupiah juga diproyeksikan melemah ke level Rp 17.135 per dolar AS pada akhir 2026.
Sementara itu, BI Rate diperkirakan tetap berada di level 4,75 persen pada 2026, sedangkan Fed Funds Rate diproyeksikan turun ke 3,75 persen. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun diperkirakan berada di level 6,63 persen pada 2026.
Dari sisi perbankan, pertumbuhan deposito diproyeksikan mencapai 10,61 persen pada 2026, sedangkan pertumbuhan kredit diperkirakan sebesar 10,34 persen.
Andry menilai kondisi global tahun ini masih akan dibayangi ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.
“Jadi kalau kita lihat dari guidance tahun 2026 itu, guidance-nya The Fed masih ada ruang untuk kemudian pemangkasan satu kali suku bunga acuan di tahun 2026 ini. Namun kalau lihat dari FOMC FedWatch, CME FedWatch, bahkan diperkirakan atau market memperkirakan bahwa tidak ada lagi pemangkasan suku bunga acuan,” ujar Andry dalam media gathering Bank Mandiri secara virtual, Senin (11/5).
Andry menjelaskan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 hingga 2027 kini semakin kecil. Padahal sebelumnya pasar berharap siklus penurunan suku bunga yang agresif pada 2025 dapat berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
“Nah ini adalah hal-hal yang kemudian memang perlu kita antisipasi,” kata Andry.
Andry menilai ketidakpastian global juga dipicu oleh faktor geopolitik dan risiko ekonomi yang masih tinggi. Dia menyinggung agresivitas kebijakan luar negeri AS, termasuk tarif impor dari Presiden AS Donald Trump, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Dari sisi volatilitas dan faktor penentunya yaitu faktor dari market wide-nya itu sendiri ada geopolitical risk dan juga economic risk, bagaimana kalau kita lihat geopolitical risk-nya, ada agresif US foreign policies, pengenaan tarif, walaupun sudah ditolak oleh Mahkamah Agung, namun Trump masih tetap untuk kemudian menerapkan tarif tersebut,” ungkap Andry.
Selain itu, perang antara AS-Israel dan Iran juga dinilai menjadi salah satu faktor yang sulit diprediksi dampaknya terhadap ekonomi global. Di luar risiko geopolitik tersebut, Andry menilai dunia juga masih menghadapi perlambatan ekonomi global yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, berbagai proyeksi menunjukkan pertumbuhan ekonomi global masih akan melambat pada 2026 sebelum mulai pulih pada 2027.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·