Ekonom CORE Ingatkan Risiko Kenaikan Biaya Hidup Akibat Rupiah Melemah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperingatkan potensi lonjakan biaya hidup masyarakat pada semester II-2026 sebagai dampak nyata dari pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini pada Kamis (14/5/2026).

Kenaikan biaya hidup tersebut dipicu oleh melambungnya ongkos logistik serta ketergantungan tinggi terhadap sejumlah komoditas impor yang harganya terkerek seiring depresiasi mata uang domestik dilansir dari Money.

Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa dampak langsung saat ini masih teredam oleh kebijakan pemerintah yang belum menaikkan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar di tengah tekanan kurs.

"Pemerintah memang masih menahan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar agar tidak naik, sehingga tekanan langsung ke masyarakat bawah sementara bisa diredam. Tetapi kenaikan mulai terjadi pada BBM nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang banyak dipakai sektor logistik dan transportasi barang," ujar Yusuf, Ekonom CORE.

Peningkatan harga pada segmen bahan bakar nonsubsidi ini dinilai akan merembet ke harga jual barang di pasar melalui transmisi biaya distribusi yang membengkak.

"Jadi walaupun masyarakat tidak membeli BBM nonsubsidi secara langsung, mereka tetap terkena dampaknya lewat kenaikan harga sembako dan ongkos transportasi," kata Yusuf, Ekonom CORE.

Selain faktor energi, impor komoditas pangan seperti gandum, kedelai, gula, dan bahan baku pakan ternak menjadi celah masuknya inflasi dari luar negeri atau imported inflation.

"Produk seperti tahu, tempe, telur, ayam, hingga roti biasanya mulai mengalami kenaikan bertahap beberapa bulan setelah kurs tertekan," ujar Yusuf, Ekonom CORE.

Yusuf menegaskan bahwa fenomena depresiasi rupiah terhadap inflasi memiliki jeda waktu sekitar tiga hingga enam bulan sebelum benar-benar dirasakan oleh konsumen akhir di tingkat rumah tangga.

"Karena itu, tekanan terhadap biaya hidup kemungkinan justru lebih terasa pada semester kedua 2026," kata Yusuf, Ekonom CORE.

Kondisi ini diprediksi akan menekan kelompok kelas menengah yang sebelumnya sudah mengalami stagnasi pendapatan meski biaya kebutuhan harian terus merangkak naik.

"Ketika harga kebutuhan pokok dan transportasi naik, yang sering dikorbankan adalah tabungan, kesehatan, atau pengeluaran pendidikan tambahan," ujar Yusuf, Ekonom CORE.

Jika situasi ini terus berlanjut, daya beli masyarakat yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional dikhawatirkan akan melemah dan menghambat mobilitas sosial.

"Indonesia memang belum masuk ke situasi stagflasi, tetapi kombinasi rupiah lemah, harga energi global tinggi, dan ketergantungan impor pangan membuat tekanan terhadap biaya hidup menjadi lebih berat dibanding biasanya," kata Yusuf, Ekonom CORE.

Sebagai langkah mitigasi, ia menyarankan Bank Indonesia untuk tetap aktif menjaga stabilitas pasar valuta asing dan pemerintah perlu memperkuat jaring pengaman sosial bagi kelompok masyarakat rentan.

"Selama Indonesia masih bergantung pada impor pangan, energi, dan bahan baku industri, setiap pelemahan rupiah akan terus diterjemahkan menjadi tekanan biaya hidup," kata Yusuf, Ekonom CORE.