Fenomena lipstick effect mencerminkan kebiasaan konsumen yang beralih membeli barang kecil yang terjangkau untuk mendapatkan kenyamanan emosional di tengah situasi keuangan yang sulit.
Barang-barang tersebut biasanya bukan merupakan kebutuhan pokok, namun tetap dianggap ramah di kantong seperti kosmetik, parfum, kopi, atau sekadar makan di luar setelah menerima gaji.
Dikutip dari Money, kemunculan fenomena ini tidak boleh dipandang sebelah mata karena menjadi indikasi awal bahwa masyarakat sedang mengalami tekanan ekonomi, khususnya untuk melakukan belanja dalam skala besar.
Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menjelaskan bahwa kemunculan fenomena ini tidak serta-merta menjadi bukti akan terjadinya krisis besar.
Menurut Budi Frensidy, fenomena ini lebih tepat diartikan sebagai sinyal adanya tekanan pada daya beli masyarakat.
"Jadi, lipstick effect adalah alarm kecil," kata Budi Frensidy.
Budi Frensidy menambahkan, situasi akan menjadi lebih serius apabila fenomena ini diikuti oleh penurunan jumlah tabungan, peningkatan utang konsumtif, lonjakan kredit macet paylater, serta pelemahan konsumsi pada barang tahan lama.
Secara umum, kondisi ini terjadi saat masyarakat menahan pembelian aset besar seperti rumah, kendaraan, atau barang elektronik, tetapi tetap membelanjakan uang untuk kosmetik, perawatan kulit, kopi, maupun hiburan murah.
Faktor pemicu di Indonesia meliputi kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan pada pendapatan, peningkatan ketidakpastian kerja, serta menguatnya budaya self-reward.
"Terutama karena media sosial dan promosi digital," ujar Budi Frensidy.
Merespons fenomena tersebut, Budi Frensidy mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi.
Membeli barang kecil untuk menyenangkan diri sendiri dinilai tidak salah, asalkan pengeluarannya masih sesuai dengan anggaran yang ditetapkan.
"Yang berbahaya adalah ketika belanja kecil dilakukan terlalu sering, memakai paylater atau utang konsumtif," tutur Budi Frensidy.
Budi Frensidy berpesan agar prioritas keuangan tetap dialokasikan untuk kebutuhan pokok, cicilan wajib, dana darurat, serta perlindungan dasar.
"Self-reward boleh, tetapi jangan sampai berubah menjadi pelarian finansial," ucap Budi Frensidy.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengungkapkan bahwa dampak fenomena ini diperparah oleh strategi konsumen yang melakukan penurunan kelas produk atau downtrading.
Langkah tersebut diambil oleh konsumen demi mempertahankan kebiasaan hidup sehari-hari mereka.
"Apalagi sekarang mulai terlihat gejala downtrading, konsumen beralih ke produk yang lebih murah, kemasan kecil, atau memanfaatkan paylater untuk menjaga gaya hidup," kata Yusuf Rendy Manilet.
Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemangku kebijakan dan pelaku pasar agar tidak keliru dalam membaca pergerakan data konsumsi mikro yang saat ini terlihat aktif.
"Efek lipstick effect sebaiknya dibaca sebagai sinyal kehati-hatian, bukan tanda konsumsinya sedang kuat," ujar Yusuf Rendy Manilet.
Yusuf Rendy Manilet juga memperingatkan adanya risiko jangka panjang terhadap ketahanan finansial keluarga jika stagnasi pendapatan dan tekanan ekonomi terus berlanjut tanpa perbaikan.
"Kalau tekanan ekonomi berlangsung terlalu lama sementara pendapatan tidak naik, risiko berikutnya adalah tabungan rumah tangga terkuras, konsumsi utang meningkat, dan daya tahan masyarakat semakin melemah," tutur Yusuf Rendy Manilet.
Tekanan Ekonomi pada Kelompok Kelas Menengah
Ekonom sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Internasional Indonesia, Teguh Yudo Wicaksono, menyebut lipstick effect sebagai fenomena nyata dari kelas menengah yang sedang tertekan.
Beberapa kebijakan ekonomi dinilai turut andil dalam membuat posisi kelas menengah menjadi stagnan.
"Kita ketahui bahwa selama ini banyak kebijakan ekonomi yang membuat kelas menengah stagnan," ucap Teguh Yudo Wicaksono.
Faktor lain yang memperparah kondisi ini adalah adanya ketidakpastian usaha hingga pelemahan nilai tukar mata uang.
"Ini membuat investor menahan untuk ekspansi," kata Teguh Yudo Wicaksono.
Dampak dari situasi tersebut dirasakan langsung oleh kelompok masyarakat kelas menengah.
Akibatnya, alokasi anggaran yang semula disiapkan untuk barang mewah berukuran besar seperti mobil dan rumah dialihkan ke barang mewah berukuran kecil.
"Jadi semua memang indikasi kelas menengah dalam tekanan," ujar Teguh Yudo Wicaksono.
Sejarah dan Pergeseran Makna Perilaku Konsumen
Istilah lipstick effect pertama kali populer setelah Leonard Lauder dari perusahaan kosmetik Estée Lauder menemukan data kenaikan penjualan lipstik saat kondisi ekonomi sedang melemah.
Perusahaan tersebut melaporkan adanya lonjakan drastis pada penjualan lipstik pasca-peristiwa serangan teroris yang terjadi pada 11 September 2001.
Secara akademis, istilah ini diperkenalkan oleh ekonom Juliet Schor untuk merujuk pada perilaku konsumen yang tetap membeli barang mewah dengan harga terjangkau seperti kosmetik premium.
Berdasarkan laporan Forbes pada 1 Juni 2022, konsep ini kemudian disepakati sebagai salah satu indikator untuk membaca perilaku konsumen di masa resesi.
Selama bertahun-tahun, fenomena ini kerap dikaitkan dengan asumsi bahwa perempuan membeli produk kecantikan demi menarik perhatian pasangan atau memperbesar peluang kerja.
Kendati demikian, hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya dinamika psikologis yang lebih kompleks dari sekadar asumsi tersebut.
Ekonom California State University, San Bernardino, Yasemin Dildar, menjelaskan bahwa peningkatan belanja produk kecantikan saat krisis ekonomi berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan emosional.
"Itu hanyalah bentuk hiburan kecil," kata Yasemin Dildar sebagaimana dikutip dari Bloomberg pada 15 November 2025.
Melalui riset mengenai periode resesi besar, Yasemin Dildar menemukan bahwa konsumen cenderung memangkas pengeluaran mahal seperti tas, pakaian, atau perhiasan, lalu menggantinya dengan produk murah yang tetap memberikan kepuasan serupa.
Kondisi Riil Perilaku Belanja Masyarakat di Lapangan
Bukti nyata terjadinya fenomena ini terlihat dari laporan akun Instagram @localpridegarage mengenai antrean panjang konsumen di kawasan Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta.
Antrean tersebut dipicu oleh viralnya produk parfum lokal bermerek Mykonos di berbagai platform media sosial.
Sejumlah dokumentasi menunjukkan kalangan anak muda hingga remaja rela menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan produk parfum yang sedang populer tersebut.
Tren belanja ini diduga kuat dipengaruhi oleh ulasan dari para konten kreator dan streamer media sosial yang memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan remaja.
Selain itu, fenomena serupa juga terlihat pada peluncuran koleksi jam tangan saku hasil kolaborasi antara Audemars Piguet dan Swatch pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Banyak pencinta jam tangan rela mengantre sejak pagi buta di depan gerai Swatch yang berada di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, serta Pacific Place, Jakarta Selatan, demi mendapatkan seri Royal Pop Collection.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·