15 May 2026 12:30
Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom mengingatkan pemerintah untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan yang masih terjadi dalam distribusi gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) 3 kilogram (kg), bukan justru mewacanakan masifikasi gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) 3 kg.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mencatat program LPG 3 kg masih menghadapi masalah serius; seperti harga yang kerap melampaui harga eceran tertinggi (HET), konsumsi yang melebihi kuota subsidi, penggunaan yang bocor ke kelompok yang tidak berhak, hingga pengawasan distribusi yang belum berjalan konsisten.
Dengan begitu, dia menilai pemerintah seperti sedang lari dari masalah jika memutuskan untuk mengonversi penggunaan LPG 3 kg ke CNG 3 kg.
“Dalam situasi seperti itu, rencana pengembangan CNG 3 kg dapat terlihat seperti pelarian dari masalah lama, bukan penyelesaian akar persoalan. Pemerintah seharusnya membenahi tata kelola LPG bersubsidi terlebih dahulu,” kata Syafruddin ketika dihubungi, dikutip Jumat (15/5/2026).
Syafruddin memandang wacana masifikasi pemanfaatan CNG dapat menjadi bagian dari program diversifikasi sumber energi, tetapi tidak dapat menggantikan agenda perbaikan subsidi ‘Gas Melon’.
Baca Juga
Lebih jauh, dia khawatir persoalan yang terjadi di LPG 3 kg dapat berpindah ke CNG jika nantinya program konversi jadi dilakukan pemerintah.
“Distribusi tidak tertib, harga tidak terkendali, manfaat tidak tepat sasaran, dan kelompok rentan tetap menanggung biaya kebijakan,” ujar dia.
Tetap Berisiko
Di sisi lain, dia meningkatkan program masifikasi pemanfaatan CNG tetap memiliki risiko meskipun harga produk tersebut berpotensi lebih murah dari LPG dan subsidi energi dapat lebih rendah.
Bahkan, CNG dalam tabung 3 kg bisa hanya menjadi masalah baru jika pemerintah sekadar menambah jenis tabung baru ke pasar, tanpa memberikan jaringan pengisian yang aman, pengawasan tabung, sertifikasi teknisi, edukasi konsumen, dan kepastian harga.
“Risiko utamanya mencakup investasi awal tinggi, infrastruktur belum siap, resistensi pengguna, transisi distribusi yang rumit, serta kekhawatiran keselamatan,” tegas dia.
Sekadar catatan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan sinyal sistem distribusi CNG 3 kg bakal mirip seperti LPG. Saat ini, kata Bahlil, Kementerian ESDM masih menyusun rencana penerapan program CNG tabung 3 kg.
“Itu kan beda-beda tipis [distribusi CNG dengan LPG]. Ini cuma yang diganti itu adalah satunya LPG, satunya CNG,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (6/5/2026).
Di sisi lain, Bahlil menyatakan masifikasi pemanfaatan CNG dapat menghemat devisa yang keluar dari impor LPG.
Dia menjelaskan dari total konsumsi LPG sebesar 8,6 juta ton, sekitar 7 juta ton diantaranya dipasok melalui jalur impor. Total devisa yang keluar untuk mengimpor LPG mencapai Rp130—Rp140 triliun.
Dari besaran itu, pemerintah bahkan memberikan subsidi sekitar Rp80—Rp87 triliun untuk LPG 3 Kg.
“Untuk CNG ini, untuk yang 12 kilo, yang 20 kilo itu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. [Hasilnya] kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Akan tetapi, kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilo,” ujar Bahlil.
“Nah, ini yang kita lagi godok, dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Namun, untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes,” tegas dia.
Namun, dalam perkembangannya, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan CNG 3 kg tidak akan dicanangkan untuk menggantikan LPG 3 kg bersubsidi.
Laode menjelaskan masifikasi CNG melalui pengembangan tabung 3 kg bakal dilakukan secara bertahap dan belum direncanakan dikembangkan sangat masif untuk menggantikan Gas Melon.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuma kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. [Kebijakan] yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).
Dia mengungkapkan pada tahun ini Kementerian ESDM bakal meluncurkan sejumlah proyek percontohan atau pilot project pemanfaatan CNG dalam tabung 3 kg.
Dalam kesempatan itu, Laode sempat menyatakan saat ini Kementerian ESDM bersama Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, hingga Badan Standardisasi Nasional (BSN) sedang mengurus pengembangan tabung CNG 3 kg.
“Jadi seperti yang Pak Menteri umumkan, kita sekarang sedang menganalisis berbagai aspek. Salah satu aspek penting adalah aspek keselamatan,” ujar Laode.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·