Fenomena antrean panjang masyarakat yang memburu produk lifestyle viral di pusat perbelanjaan Jakarta menarik perhatian publik. Publik menyoroti kehadiran jam tangan kolaborasi Swatch x AP hingga parfum lokal Mykonos yang memicu antrean mengular di sejumlah mal.
Dikutip dari Money, ekonom menilai tren kerumunan tersebut tidak dapat serta-merta dijadikan indikator kuatnya daya beli masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Pengelompokan data konsumen yang terekam dalam fenomena ini dinilai belum mewakili kondisi riil secara nasional.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa keramaian antrean membeli suatu produk tidak merepresentasikan kondisi konsumsi rumah tangga nasional yang jauh lebih luas dan beragam.
"Kurang tepat kalau langsung dijadikan indikator bahwa daya beli masyarakat secara agregat masih kuat. Dalam ekonomi konsumen, fenomena seperti ini justru sering menyesatkan kalau tidak dibaca dalam konteks yang lebih luas," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).
Yusuf Rendy Manilet menguraikan adanya unsur selection bias dalam melihat fenomena belanja masyarakat urban ini. Antrean yang tampak di lokasi premium hanya mencerminkan segmen kelas menengah atas perkotaan yang memiliki kemampuan finansial relatif stabil.
Kondisi kelompok masyarakat tersebut dipastikan tidak mewakili potret ekonomi dari total 287 juta penduduk Indonesia. Skala aktivitas belanja yang viral di media sosial dianggap terlalu kecil untuk ditarik menjadi kesimpulan makro.
"Antrean yang viral di media sosial terlihat besar, tetapi secara statistik sebenarnya sangat kecil dibanding populasi konsumen Indonesia secara keseluruhan," kata dia.
Yusuf Rendy Manilet juga menambahkan adanya indikasi survivorship bias dalam perbincangan publik. Perhatian masyarakat cenderung terpusat pada produk yang sukses memicu antrean, sementara produk lain di kategori sejenis bisa jadi sedang mengalami kelesuan penjualan.
Indikator Makro dan Pola K-Shaped Consumption
Melihat data makro saat ini, gambaran konsumsi rumah tangga nasional justru memperlihatkan performa yang beragam. Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perlambatan konsumsi, melemahnya indeks penjualan ritel, serta pergeseran belanja masyarakat ke produk esensial.
"Jadi antrean produk hype tidak otomatis berarti purchasing power masyarakat luas sedang baik," tegasnya.
Situasi ini lebih tepat digambarkan sebagai fenomena K-shaped consumption, yang menandakan terjadinya pembelahan pola konsumsi di masyarakat. Kelompok atas tetap adaptif meningkatkan belanja gaya hidup, sedangkan kelompok menengah bawah mulai menahan diri.
"Yang terlihat di antrean itu adalah konsumsi segmen atas yang tetap resilien, bukan refleksi kesehatan konsumsi nasional secara menyeluruh," ucap dia.
Faktor psikologis seperti status sosial, eksklusivitas, hingga fear of missing out (FOMO) dinilai menjadi pendorong utama permintaan produk tersebut, ketimbang fungsi kebutuhan kegunaannya.
Meskipun berdampak positif bagi pergerakan retail premium dan industri kreatif, Yusuf Rendy Manilet mengingatkan agar pengambil kebijakan tidak terlalu optimistis melihat kondisi ekonomi keseluruhan dari fenomena ini.
"Kalau dibaca terlalu optimistis, bisa berbahaya, sebab ketika konsumsi terlalu ditopang kelas atas, struktur ekonomi menjadi lebih rapuh karena konsumsi kelompok ini sangat sensitif terhadap wealth effect pasar aset dan kondisi finansial global," pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·