Ekonom: Tata kelola SDA harus berkualitas agar bantu ungkit penerimaan

Sedang Trending 43 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai keberhasilan implementasi tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) ditentukan oleh kualitas pelaksanaan di lapangan, sehingga dapat membantu meningkatkan penerimaan negara.

“Saya melihat kebijakan ini memang bisa membantu menaikkan penerimaan negara dan mungkin memberi tambahan ruang pada rasio penerimaan. Tetapi keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kualitas tata kelola dan pelaksanaan di lapangan,” kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Yusuf memandang, kebijakan tata kelola ekspor SDA memang memiliki tantangan yang tidak kecil, mulai dari kapasitas badan usaha milik negara (BUMN) yang ditunjuk, risiko inefisiensi bila ekspor terlalu terpusat, sampai potensi gesekan dengan pelaku usaha dan mitra dagang.

Menurutnya, kebijakan tersebut sebenarnya merupakan langkah yang menarik karena menyentuh salah satu titik kebocoran terbesar dalam perdagangan komoditas nasional.

Baca juga: Airlangga pastikan ekspor SDA tetap dilakukan pelaku usaha

Dalam hal ini, pemerintah berupaya memperketat pengawasan ekspor komoditas, seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan mineral agar praktik under-invoicing serta pelarian devisa dapat ditekan.

“Secara konsep, kalau pengawasannya berjalan efektif, kebijakan ini memang berpotensi menambah penerimaan negara sekaligus memperkuat cadangan devisa,” kata Yusuf.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa angka potensi yang disebut pemerintah perlu dibaca secara hati-hati.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebut potensi kebocoran yang dapat diselamatkan mencapai sekitar 150 miliar dolar AS per tahun.

Tetapi, menurut Yusuf, angka tersebut merupakan estimasi potensi devisa yang dapat dikendalikan, bukan tambahan penerimaan negara yang otomatis terealisasi. Ia mengatakan, hal tersebut merupakan dua hal yang berbeda.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.