Ekonomi China Diprediksi Tumbuh 4,8 Persen pada Kuartal I 2026

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Pertumbuhan ekonomi China diperkirakan mengalami akselerasi sebesar 4,8 persen pada kuartal pertama tahun 2026 yang dilaporkan pada Kamis (16/4). Capaian Produk Domestik Bruto (PDB) ini menunjukkan penguatan dibandingkan pertumbuhan 4,5 persen pada periode terakhir tahun sebelumnya.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, peningkatan aktivitas ekonomi ini memberikan ruang bagi otoritas Beijing untuk memantau dampak konflik regional Timur Tengah. Para pengambil kebijakan belum merasa perlu memberikan stimulus tambahan secara mendesak akibat ketahanan energi yang kuat.

Sektor teknologi tinggi menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan impor pada Maret 2026 yang dipicu oleh investasi besar pada kecerdasan buatan (AI). Meskipun surplus perdagangan barang menyusut hampir 5 persen dalam denominasi yuan, permintaan global terhadap produk AI membantu menahan tekanan eksternal.

Output industri diproyeksikan tumbuh 5,3 persen pada Maret, meski angka ini sedikit melambat dari pertumbuhan 6,3 persen pada periode Januari-Februari. Sektor manufaktur tetap tangguh didorong oleh ekspor produk ramah lingkungan seperti kendaraan listrik dan komponen chip ke pasar global.

Pemerintah China kini menerapkan target pertumbuhan yang lebih fleksibel pada kisaran 4,5 persen hingga 5 persen untuk tahun ini. Angka tersebut tercatat sebagai target terendah sejak tahun 1991 guna memberikan stabilitas di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.

"Kami memperkirakan pembuat kebijakan akan mengambil pendekatan menunggu dan melihat untuk saat ini," kata Larry Hu, Ekonom Macquarie Group Ltd dalam laporan yang dirilis Jumat sebelumnya.

Sektor konsumsi rumah tangga masih menunjukkan tren pemulihan yang lambat dengan penjualan ritel yang hanya naik 2,4 persen pada Maret. Penurunan penjualan mobil domestik hingga 8 persen pada kuartal pertama terjadi menyusul penghentian bertahap program subsidi pemerintah.

Kondisi pasar properti di kota-kota besar seperti Shanghai juga terpantau belum sepenuhnya pulih meski transaksi rumah bekas meningkat. Data menunjukkan indikator pinjaman hipotek yang beredar mengalami penurunan hingga lebih dari 40 persen dibandingkan tahun lalu.

Investasi aset tetap diperkirakan naik 1,9 persen pada tiga bulan pertama tahun ini, membaik dari kontraksi tajam tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh realisasi proyek infrastruktur strategis yang tertunda dari akhir tahun 2025 ke awal tahun 2026.