Sejumlah perusahaan tambang di Indonesia dilaporkan mulai mengalihkan fokus ekspansi ke pasar luar negeri akibat tekanan regulasi domestik dan ketidakpastian persetujuan rencana kerja pada Rabu (6/5/2026). Langkah strategis ini juga diambil sebagai upaya lindung nilai di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Analisis dari sektor pasar modal menunjukkan bahwa kebijakan internal di dalam negeri turut mendorong percepatan akuisisi aset di negara-negara seperti Australia, Papua Nugini, dan Kanada. Sektor mineral kritis menjadi incaran utama demi mendukung transisi energi global.
"Langkah agresif perusahaan tambang Indonesia melakukan akuisisi aset di luar negeri. Seperti misalnya di Australia, Papua Nugini, Kanada didorong oleh kombinasi strategis, termasuk tekanan regulasi domestik dan upaya lindung nilai di tengah pelemahan nilai tukar," ungkap Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas.
Achmad menjelaskan bahwa hambatan administratif pada tingkat kementerian menjadi salah satu faktor penentu pergeseran investasi tersebut. Ketidakjelasan mengenai persetujuan volume produksi tahunan disinyalir mengganggu proyeksi operasional perusahaan.
"Keputusan peralihan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari 3 tahunan menjadi kembali per 1 tahun tahun ini, berpotensi menimbulkan ketidakpastian operasional emiten tambang," jelas Achmad Yaki.
Selain masalah birokrasi, diversifikasi pendapatan melalui komoditas di luar batu bara menjadi prioritas bagi emiten besar seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas bisnis jangka panjang melalui penguatan portofolio pada emas, tembaga, dan bauksit.
"Alasan selanjutnya adalah terkait dengan lindung nilai, karena membuat aset dalam valuta asing menjadi pilihan investasi (safe haven) untuk menjaga nilai aset dan pendapatan perusahaan," ungkap Achmad Yaki.
Investasi di luar negeri juga dianggap memberikan efisiensi waktu karena perusahaan cenderung mengambil alih tambang yang sudah beroperasi. Metode ini jauh lebih cepat dibandingkan memulai proyek dari tahap awal di lokasi baru.
"Ada kecepatan untuk berpotensi daripada membangun tambang baru atau greenfield," tambah Achmad Yaki.
Perspektif lain dari industri keuangan menyoroti bahwa ketersediaan cadangan mineral berskala besar di Indonesia sudah mulai terbatas. Hal ini memaksa para pelaku usaha untuk mencari sumber daya baru di wilayah hukum yang memiliki regulasi lebih stabil.
"Kepastian regulasi di luar negeri yang lebih stabil dibanding kompleksitas perizinan domestik, dan kebutuhan diversifikasi ke mineral kritis seiring transisi energi global. Meski begitu, pelemahan rupiah bukan pendorong utama namun memberikan insentif tambahan karena aset berdenominasi dolar relatif menguat," jelas Abida Massi Armand, Fundamental Analyst di BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS).
BRIDS memproyeksikan bahwa aktivitas akuisisi ini akan terus meningkat hingga akhir tahun 2026. Emiten dengan kondisi keuangan yang sehat diprediksi menjadi pemain paling aktif dalam perburuan aset internasional tersebut.
"BUMI paling agresif dengan pipeline Loyal Metals, Wolfram, Jubilee, dan Laman Mining. UNTR masih memantau aset di Australia Barat dan Queensland. Tren berlanjut selama harga mineral kritis tinggi dan cadangan domestik terus menyusut," ungkap Abida Massi Armand.
Tren ekspansi ini diperkuat oleh data transaksi sejumlah emiten sepanjang tahun berjalan yang melibatkan nilai investasi hingga triliunan rupiah di berbagai negara. Berikut adalah daftar akuisisi aset tambang luar negeri oleh emiten Indonesia:
| PT Bumi Resources Tbk (BUMI) | Loyal Metals Ltd (Australia) | US$79 Juta |
| PT Petrosea Tbk (PTRO) | HBS (PNG) Limited (Papua Nugini) | US$25,76 Juta |
| PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) | Dawson Complex (Australia) | US$455 Juta |
| PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) | Potensi Lokasi (Arab Saudi) | Dalam Evaluasi |
Terkait rencana ekspansi ke Timur Tengah, pihak PT Aneka Tambang Tbk menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pertumbuhan yang selektif. Perusahaan tetap mengedepankan aspek manajemen risiko dalam setiap pengambilan keputusan investasi.
"Saat ini, Perseroan masih terus melakukan monitoring terhadap perkembangan situasi dan akan mengevaluasi langkah selanjutnya dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta mempertimbangkan aspek risiko dan nilai tambah bagi perusahaan," ungkap Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang Tbk.
Emiten pelat merah tersebut juga menegaskan fokusnya pada penguatan bisnis emas di masa mendatang. Penguatan rantai pasok dan optimalisasi aset yang sudah ada tetap menjadi pilar utama operasional perusahaan.
"Sejalan dengan mandat Perseroan dalam memperkuat basis sumber daya emas, ANTAM akan tetap berfokus pada penguatan portofolio emas melalui optimalisasi aset eksisting, penjajakan sumber daya baru, serta penguatan rantai pasok guna mendukung keberlanjutan bisnis emas ke depan," tambah Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang Tbk.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·