Krisis Bahan Bakar Pesawat Ancam Penerbangan Asia dan Eropa Akibat Perang

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Gangguan pasokan bahan bakar pesawat kini membayangi perjalanan musim panas di wilayah Asia dan Eropa. Kondisi ini dipicu oleh tersendatnya distribusi energi dari Timur Tengah akibat konflik bersenjata yang pecah sejak akhir Februari 2026.

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa sebelum perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran meletus pada 28 Februari, Teluk Persia merupakan pemasok avtur terbesar bagi pasar global. Namun, aksi blokade Iran di Selat Hormuz menyebabkan ekspor bahan bakar dari kawasan tersebut terhenti total.

Dikutip dari Detik Finance, Eropa menjadi wilayah yang paling terdampak secara signifikan. Hal ini dikarenakan sekitar 20% kebutuhan bahan bakar pesawat di benua tersebut sebelumnya sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk.

Meskipun terdapat sumber pasokan lain dari kilang di India, Korea Selatan, dan China, fasilitas tersebut tetap mengalami kendala. Pasalnya, kilang-kilang di Asia tersebut masih sangat bergantung pada minyak mentah asal Timur Tengah untuk proses produksinya.

Laporan menunjukkan bahwa sekitar 90% minyak dari Teluk yang melewati Selat Hormuz biasanya dikirim ke pasar Asia. Kini, kilang-kilang tersebut kesulitan memenuhi permintaan domestik maupun internasional akibat berkurangnya bahan baku minyak mentah.

Penurunan ekspor bahan bakar jet global tercatat mencapai 30%, menyusut menjadi 1,3 juta barel per hari pada April 2026. Angka ini turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada di level 1,9 juta barel per hari.

"Ini seperti kecelakaan mobil dalam gerakan lambat," kata Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, dilansir dari CNBC pada Kamis (7/5/2026).

Volume pemuatan bahan bakar jet ke kapal tanker pada pekan lalu juga merosot tajam hingga 50% menjadi 18,6 juta barel. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, volume tersebut mampu mencapai angka 37,8 juta barel.

Airports Council International Europe telah memberikan peringatan kepada Uni Eropa mengenai risiko kekurangan sistemik bahan bakar jet. Ancaman ini akan terus menghantui jika akses Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali dalam waktu dekat.

Dampak ekonomi mulai terasa nyata bagi maskapai penerbangan, salah satunya Lufthansa yang terpaksa memangkas 20.000 jadwal penerbangan jarak pendek hingga Oktober. Keputusan ini diambil perusahaan akibat beban biaya bahan bakar yang kian mencekik operasional.

Berdasarkan data International Air Transport Association (IATA), harga bahan bakar jet di Eropa telah melonjak dua kali lipat dalam setahun terakhir. Per 1 Mei 2026, harga komoditas tersebut menyentuh angka US$ 187 per barel.

CEO Chevron, Mike Wirth, memprediksi bahwa krisis pasokan ini akan menjadi persoalan yang kian serius dalam beberapa pekan mendatang. Ia menyoroti bahwa sinyal harga di beberapa wilayah sudah mencapai titik yang sangat ekstrem.

"Sinyal harga di beberapa wilayah sudah sangat ekstrem dan yang benar-benar mereka khawatirkan sekarang adalah pasokan," ujar Mike Wirth.

Sebelumnya, pasar sempat merasakan masa tenang karena kapal tanker yang berangkat sebelum perang pecah masih tiba di tujuan pada Maret dan April. Namun, stok kiriman lama tersebut kini mulai menipis dan mendesak pencarian solusi baru.

Uni Eropa saat ini berupaya keras mengamankan sumber energi alternatif, terutama dengan melirik pasokan dari Amerika Serikat. Kilang-kilang besar AS seperti Marathon Petroleum dan Valero mulai menggenjot produksi bahan bakar jet untuk menambal permintaan global.

Data ekspor menunjukkan lonjakan pengiriman dari Amerika Serikat ke Eropa yang mencapai lebih dari 400%. Pada April, volume ekspor melonjak ke angka 94.000 barel per hari, naik signifikan dibandingkan posisi saat perang baru dimulai pada Februari.