Surabaya (ANTARA) - Hari ini, seseorang bisa menjadi sasaran kemarahan publik hanya dalam hitungan jam. Sebuah video pendek, potongan percakapan, atau unggahan media sosial dapat segera berubah menjadi gelombang hujatan nasional.
Publik bereaksi cepat sebelum memahami konteks secara utuh. Orang ramai-ramai menghakimi, sementara fakta sering tertinggal jauh di belakang.
Fenomena itu semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Demonstrasi mudah berubah menjadi konfrontasi. Perdebatan politik menjelma saling hina. Guru dipersoalkan murid dan orang tua. Aparat dan warga saling merekam lalu menyebarkannya ke media sosial. Bahkan, konflik pribadi pun dapat mendadak berubah menjadi tontonan nasional.
Kita hidup di zaman ketika komunikasi berlangsung sangat cepat, tetapi kehilangan kedalaman. Orang semakin mudah berbicara, namun semakin sulit mendengar.
Banjir informasi
Perubahan besar itu tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi digital. Dulu, arus informasi relatif terpusat melalui media massa, lembaga pendidikan, atau otoritas sosial tertentu. Kini setiap orang dapat menjadi penyebar informasi, sekaligus pembentuk opini.
Demokratisasi komunikasi memang membawa manfaat besar. Publik memiliki ruang lebih luas untuk menyampaikan kritik dan mengawasi kekuasaan. Namun, ledakan saluran komunikasi juga melahirkan persoalan baru: kekacauan informasi.
Kita dibanjiri pesan tanpa henti. Informasi datang dari berbagai kanal secara bersamaan: media sosial, grup percakapan, platform video pendek, podcast, hingga komentar anonim. Dalam situasi seperti itu, masyarakat kesulitan membedakan mana fakta, opini, propaganda, atau sekadar pelampiasan emosi.
Kini, ruang publik berubah menjadi bising. Teoretikus komunikasi Marshall McLuhan pernah mengingatkan bahwa media bukan sekadar alat penyampai pesan, tetapi ikut membentuk cara manusia berpikir dan berhubungan. Apa yang kita alami hari ini membuktikan hal itu. Media digital membentuk budaya komunikasi yang serba cepat, spontan, dan reaktif.
Di media sosial, yang paling menarik perhatian bukanlah penjelasan mendalam, melainkan sensasi. Algoritma digital cenderung mempromosikan konten yang memicu keterlibatan emosional: kemarahan, ketakutan, kontroversi, atau kebencian. Karena itu, informasi yang keras dan provokatif lebih mudah viral dibanding percakapan yang tenang. Dalam situasi seperti itu, emosi sering mengalahkan nalar.
Baca juga: Komunikasi buruk dinilai penyebab perilaku asusila pelajar Bulukumba
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·