Erick Tanjung Dorong Jurnalis di Jayapura Perkuat Keamanan Digital & Literasi AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pemimpin Redaksi Pandangan Jogja sekaligus Ketua Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Erick Tanjung. Foto: Dok. Istimewa

Pemimpin Redaksi Pandangan Jogja sekaligus Ketua Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Erick Tanjung, menekankan pentingnya penguatan keamanan digital dan literasi kecerdasan buatan (AI) bagi jurnalis dan kreator konten muda di tengah meningkatnya ancaman di ruang digital.

Hal itu disampaikan Erick dalam kegiatan Training Keamanan Digital dan Artificial Intelligence (AI) untuk Jurnalis dan Pembuat Konten Muda yang digelar di Jayapura pada 5–6 Mei 2026.

Pelatihan berlangsung di Kantor Gubernur Papua dan Swiss-Belhotel Jayapura dengan melibatkan 25 peserta dari kalangan jurnalis dan kreator konten Generasi Z berusia 18–28 tahun.

Menurut Erick, lanskap digital saat ini menghadirkan tantangan serius bagi pelaku media, mulai dari peretasan akun, phishing, pengawasan digital, hingga serangan daring terkoordinasi.

“Ancaman ini bukan hanya soal keamanan individu, tetapi juga berdampak langsung pada kredibilitas media dan kualitas informasi publik,” ujar Erick Tanjung.

Ia mengatakan perkembangan teknologi AI membawa peluang sekaligus risiko bagi dunia media. Di satu sisi, AI membuka ruang inovasi dalam produksi konten dan efisiensi kerja jurnalistik. Namun di sisi lain, teknologi tersebut juga memunculkan persoalan seperti disinformasi, deepfake, bias algoritmik, dan kerentanan privasi data.

Pemimpin Redaksi Pandangan Jogja sekaligus Ketua Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Erick Tanjung. Foto: Dok. Istimewa

Erick menyebut pelatihan ini digelar untuk menjawab kebutuhan peningkatan kapasitas jurnalis dan kreator konten muda yang kini menjadi aktor penting dalam membentuk opini publik melalui platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram. Menurutnya, tingginya visibilitas di ruang digital juga membuat para kreator lebih rentan terhadap serangan siber.

Berdasarkan riset AJI, sebanyak 63,5 persen dari 312 kreator konten yang disurvei mengaku pernah mengalami serangan digital dalam lima tahun terakhir, seperti doxing, trolling, hingga pengambilalihan akun.

“Banyak kreator muda tidak memiliki dukungan institusional, padahal mereka memproduksi informasi yang memengaruhi publik. Ini celah yang harus segera dijembatani,” katanya.

Pelaksanaan program ini juga bertepatan dengan peringatan World Press Freedom Day yang diinisiasi media lokal Jubi bersama KTP2JB. Erick menilai wilayah seperti Jayapura memiliki peran strategis dalam menghadirkan perspektif lokal dalam isu publik, namun masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan dan pengembangan kapasitas.

“Jika jurnalis dan kreator konten tidak dibekali keterampilan keamanan digital dan literasi AI, mereka akan semakin rentan terhadap manipulasi dan serangan. Dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada kualitas demokrasi dan ruang publik kita,” pungkas Erick.