Jakarta (ANTARA) - Dewan Pakar Bidang Pariwisata dari BA Center Taufan Rahmadi menekankan bahwa proses evakuasi korban di Gunung Dukono, Maluku Utara jadi pengingat pentingnya aspek keamanan dan keselamatan yang tidak boleh diabaikan oleh wisatawan ketika berwisata di gunung api.
"Di dalam industri pariwisata, keamanan itu menjadi hal yang utama. Safety first itu adalah sesuatu yang prioritas, tidak ada pengalaman wisata yang sebanding kehilangan nyawa," kata Taufan saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Taufan mengatakan bahwa gunung api menjadi salah satu jenis dari wisata alam ekstrem dengan risiko yang tidak boleh diremehkan oleh wisatawan. Aktivitas pendakian perlu mematuhi segala bentuk aturan maupun larangan yang telah diterbitkan oleh otorita setempat.
Pembatasan zona bahaya yang telah diumumkan tidak boleh dilanggar karena dapat membahayakan keselamatan para pendaki. Dalam kasus erupsi Gunung Dukono, dia menyebut tindakan mengabaikan larangan pendakian dan menerobos zona bahaya gunung api merupakan bentuk kenekatan fatal.
Baca juga: Singapura apresiasi upaya RI atas evakuasi korban erupsi Gunung Dukono
"Pelanggaran ini menurut saya adalah bentuk, kalau boleh saya sebut itu kenekatan yang fatal ya. Kenekatan yang fatal dalam konteks pariwisata modern itu keselamatan dan keamanan wisatawan itu harus menjadi prioritas," ujarnya.
Dari kejadian itu pun diharapkannya dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi pemerintah dalam memperkuat sistem mitigasi risiko dalam sektor pariwisata.
Pemerintah diminta memperkuat mitigasi dan pengawasan dengan menggunakan Prosedur Operasional Standar (SOP) yang mencakup pengawasan pada jalur pendakian, digitalisasi informasi dan meningkatkan pantauan status gunung api secara real time.
Para pemandu yang bekerja di wisata gunung api juga disarankan untuk mendapatkan peningkatan kompetensi untuk lebih ahli dalam memberikan bantuan serta tegas menerapkan aturan yang berlaku.
"Yang tidak kelah pentingnya juga adanya perlu integrasi yang lebih kuat antara stakeholder pariwisata, baik itu BNPB, Basanas, pemerintah daerah, komunitas pariwisata, komunitas pendaki misalnya. Terus para pakar di bidang alam, di bidang wisata ekstrim untuk sama-sama menjaga daripada pariwisata yang ada di sana," tambah Taufan.
Dia mengatakan industri pariwisata perlu menjadikan keselamatan dan keamanan wisatawan sebagai standar utama layanan yang disediakan. Destinasi menurutnya tidak hanya berbicara mengenai atraksi atau kesenangan berwisata saja.
Baca juga: Dua WNA pendaki Gunung Dukono ditemukan meninggal tertimpa batu erupsi
Bagi pendaki pemula, dia menekankan pentingnya mematuhi aturan yang sudah ditetapkan di kawasan gunung, tidak mengabaikan peringatan dari pemegang otoritas dan mempersiapkan fisik sebelum mulai mendaki.
Dalam kesempatan itu, Taufan turut menyampaikan duka cita yang mendalam pada korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Sebelumnya, Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara dikabarkan kembali mengalami erupsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa pada Jumat (8/5), ada sebanyak 20 pendaki yang terjebak erupsi di kawasan tersebut.
Sebanyak 17 pendaki dinyatakan berhasil di evakuasi, sementara tiga lainnya ditemukan dalam keadaan telah meninggal dunia. Adapun korban terdiri atas satu Warga Negara Indonesia (WNI) dan dua Warga Negara Asing (WNA) asal Singapura.
Seluruh jenazah dirujuk ke RSUD Tobelo untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Baca juga: BNPB: Semua korban erupsi Gunung Dukono telah ditemukan
Baca juga: IABI: Pelanggaran zona bahaya gunung api merupakan kenekatan fatal
Baca juga: Gunung Dukono bukan tempat menantang maut
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·