Faktor-faktor yang bisa memicu menstruasi dini pada anak perempuan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Anak perempuan umumnya pertama kali mengalami menstruasi pada umur sekitar 12 tahun, tetapi ada pula anak-anak perempuan yang sudah mulai mengalaminya pada usia 10 tahun atau kurang menurut dokter kandungan.

Sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times pada Kamis (14/5), dokter ahli obstetri dan ginekologi Deepthi Ashwin dari Aster Whitefield Hospital di India menyampaikan bahwa awal menstruasi yang lebih dini pada anak perempuan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan gaya hidup.

Ia menjelaskan bahwa menstruasi pertama bisa terjadi lebih awal karena gabungan faktor seperti obesitas pada anak, genetik, ketidakseimbangan hormon, paparan zat kimia pengganggu hormon dari lingkungan, stres, dan gangguan neurologis tertentu.

Selain masalah gaya hidup, beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan pubertas dini.

Menurut dr. Ashwin, gangguan tiroid, sindrom ovarium polikistik (PCOS), gangguan kelenjar adrenal, kista ovarium, dan masalah langka pada otak termasuk kondisi yang dapat memicu perubahan hormonal dini.

Baca juga: Tiga ciri menstruasi yang sehat menurut dokter kandungan

Dokter Ashwin​​​​​​ mengemukakan bahwa pubertas dini juga bisa mengindikasikan adanya masalah kesehatan tertentu.

Ia menyarankan pelaksanaan pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi kesehatan yang mendasari munculnya tanda-tanda pubertas dini pada anak perempuan.

"Proses evaluasi meliputi penilaian pertumbuhan menggunakan tes hormon dan pemindaian usia tulang serta metode pencitraan khusus untuk kasus-kasus tertentu," katanya.

Ia menyampaikan bahwa penanganan masalah akan dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasari masalah kesehatan reproduksi pada anak perempuan.

"Sebagian besar kasus hanya memerlukan perubahan gaya hidup dan pengendalian berat badan, sementara beberapa anak membutuhkan pengobatan hormon," katanya.

Baca juga: Hal-hal yang perlu diwaspadai saat remaja putri telat menstruasi

Baca juga: Psikiater jelaskan pengaruh hormon pada emosi saat menstruasi

Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.