Kepala Sekolah SMK di Pamulang Dinonaktifkan Buntut Dugaan Child Grooming

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Dugaan tindakan manipulasi psikologis atau child grooming yang melibatkan seorang kepala sekolah terhadap siswinya di sebuah SMK swasta di Pamulang, Tangerang Selatan, tengah menjadi sorotan luas di media sosial.

Menyikapi situasi yang berkembang, pihak yayasan sekolah tersebut memutuskan untuk mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan oknum kepala sekolah yang bersangkutan dari jabatannya.

Dilansir dari Detikcom, unggahan yang viral tersebut memuat pengakuan mengenai pola pendekatan pelaku yang secara spesifik menyasar siswi dengan kondisi kurang perhatian dari sosok ayah atau fatherless.

Pihak sekolah menyatakan bahwa keputusan penonaktifan ini diambil untuk menjamin transparansi serta memastikan proses investigasi internal dapat berjalan tanpa hambatan.

"Yayasan bersama manajemen sekolah telah mengambil langkah-langkah responsif. Penonaktifan jabatan demi menjunjung tinggi transparansi dan kelancaran proses investigasi. Saat ini yang bersangkutan telah dinonaktifkan sementara dari jabatannya hingga proses pemeriksaan internal dinyatakan selesai sepenuhnya," tulis Instagram @letrispamulangofficial seperti dilihat, Jumat (15/5/2026).

Selain kebijakan penonaktifan, yayasan juga telah menginstruksikan pembentukan tim khusus untuk mendalami fakta-fakta terkait peristiwa yang dilaporkan terjadi berulang kali tersebut.

Manajemen sekolah menegaskan komitmen mereka untuk menyelesaikan permasalahan ini secara adil sesuai koridor hukum yang berlaku di Indonesia.

"Fokus utama kami saat ini adalah memastikan lingkungan belajar, tetap aman dan kondusif bagi seluruh siswa-siswi," ucapnya.

Berdasarkan perspektif Komnas Perempuan, child grooming dikategorikan sebagai bentuk kekerasan berbasis gender yang memanfaatkan ketimpangan relasi kuasa untuk memanipulasi emosi anak.

Pelaku biasanya membangun strategi dengan memposisikan diri sebagai teman dekat, pendengar yang baik, hingga memberikan validasi serta hadiah secara berlebihan kepada korban.

Tahapan manipulasi ini sering kali berlanjut pada normalisasi perilaku seksual secara bertahap dan upaya mengisolasi korban dengan meminta kerahasiaan hubungan.

Pada tahap akhir, pelaku cenderung memanipulasi rasa takut dan bersalah korban, yang dalam banyak kasus berujung pada ancaman atau pemerasan seksual agar korban tetap tunduk pada kehendak pelaku.